Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi Meriahkan Harjaba ke-254 lewat Fragmen Puputan Bayu

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 18 Desember 2025, 15:26 WIB
siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi. Mereka menampilkan fragmen sejarah Perang Puputan Bayu dalam upacara peringatan Harjaba yang digelar di halaman Kantor Bupati Banyuwangi, Kamis (18/12/2025).
siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi. Mereka menampilkan fragmen sejarah Perang Puputan Bayu dalam upacara peringatan Harjaba yang digelar di halaman Kantor Bupati Banyuwangi, Kamis (18/12/2025).

BanyuwangiNet.com – Peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 semakin semarak dengan penampilan puluhan siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi. Mereka menampilkan fragmen sejarah Perang Puputan Bayu dalam upacara peringatan Harjaba yang digelar di halaman Kantor Bupati Banyuwangi, Kamis (18/12/2025).

Sebanyak 40 siswa dari jenjang SD hingga SMA Sekolah Rakyat tampil memukau meski hanya menjalani latihan selama tiga hari. Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para penonton yang hadir. Para siswa berlatih di bawah bimbingan Dewan Kesenian Blambangan (DKB).

“Awalnya memang grogi. Tapi setelah itu lancar, dan juga senang bisa tampil di depan banyak orang,” kata Akbar, siswa kelas VII Sekolah Rakyat Licin, Banyuwangi.

Perasaan bangga juga dirasakan Yusuf, siswa kelas VII Sekolah Rakyat Licin lainnya. Ia mengaku terharu karena untuk pertama kalinya tampil di hadapan publik dalam acara besar daerah.

Harjaba ke-254 Bertema Tandang Bareng, Bupati Ipuk Sarapan Nasi Bungkus Bersama Warga

“Ini pertama kali tampil di hadapan orang banyak. Apalagi ada Ibu Bupati. Senang sekali,” ujarnya.

Fragmen yang ditampilkan mengangkat kisah Perang Puputan Bayu, pertempuran besar antara rakyat Blambangan melawan VOC Belanda pada tahun 1771. Fragmen tersebut menggambarkan kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat Blambangan yang memicu perlawanan besar.

Perlawanan rakyat Blambangan dipimpin oleh Pangeran Rempeg Jogopati, keturunan Prabu Tawang Alun, Raja Kerajaan Blambangan. Puncak pertempuran terjadi pada 18 Desember 1771 di Desa Bayu, yang kini masuk wilayah Kecamatan Songgon.

Pulang Kampung dan Berdaya, Mantan PMI Banyuwangi Pilih Bangun Usaha di Negeri Sendiri

Dalam peristiwa yang dikenal dengan istilah Puputan, pasukan VOC mengalami kerugian besar, bahkan komandan mereka, Sersan Mayor Van Schaar, tewas dalam pertempuran. Namun, Pangeran Jogopati juga gugur dalam perang besar yang menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar tersebut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan terus memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda di berbagai bidang.

“Kami rangkul semuanya. Anak-anak muda harus diberikan ruang ekspresi yang seluas-luasnya, mulai dari seni, budaya, sains, hingga olahraga. Tak terkecuali siswa di Sekolah Rakyat,” ujar Ipuk.

Menurut Ipuk, keterlibatan pelajar Sekolah Rakyat dalam peringatan Harjaba menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan diri anak-anak.

“Ini salah satu cara memotivasi agar mereka lebih percaya diri. Tidak perlu minder, karena semua anak memiliki kelebihan dan kesempatan untuk sukses,” tegasnya.

Selain fragmen Puputan Bayu, peringatan Harjaba ke-254 juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni lainnya. Di antaranya tari kolosal Jayantara yang menggambarkan keberanian rakyat Banyuwangi dalam mempertahankan Bumi Blambangan.

Artikel Terkait