Pulang Kampung dan Berdaya, Mantan PMI Banyuwangi Pilih Bangun Usaha di Negeri Sendiri

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 17 Desember 2025, 15:43 WIB
Wiwik Winarsih dan Dwi Surantini, dua mantan PMI yang kini memilih untuk bedaya di kampung halaman masing-masing. Mereka mendorong agar PMI yang pensiun agar bisa survive saat pulang ke negerinya sendiri.
Wiwik Winarsih dan Dwi Surantini, dua mantan PMI yang kini memilih untuk bedaya di kampung halaman masing-masing. Mereka mendorong agar PMI yang pensiun agar bisa survive saat pulang ke negerinya sendiri.

BanyuwangiNet.com – Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) kerap dipandang sebagai jalan untuk meraih kehidupan yang lebih layak dengan penghasilan menjanjikan. Namun, bagi sebagian PMI, pilihan untuk pulang kampung justru menjadi langkah penting untuk menemukan kebahagiaan dan kemandirian di negeri sendiri.

Salah satunya adalah Wiwik Winarsih, mantan PMI asal Desa Ringinsari, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Setelah bertahun-tahun bekerja di luar negeri, Wiwik memilih kembali ke kampung halaman dan membangun kehidupan baru yang lebih dekat dengan keluarga.

Pengalaman Wiwik sebagai PMI terbilang panjang. Ia bekerja di empat negara berbeda selama lebih dari satu dekade, sejak era 1990-an hingga awal 2000-an.

“Saya pernah bekerja di Singapura selama 4 tahun, di Malaysia 2,5 tahun, di Taiwan 1,5 tahun, dan Hongkong 2 tahun,” kata Wiwik.

Jadi Tujuan Libur Nataru 2026, Banyuwangi Gelar Rakor Pengamanan Lintas Sektor

Setelah pulang dari Hongkong pada 2006, Wiwik memutuskan tidak lagi kembali bekerja ke luar negeri. Keputusan itu diambil demi bisa lebih dekat dengan keluarga dan menjalani hidup di kampung halaman.

Namun, memulai kehidupan ekonomi setelah pulang bukanlah perkara mudah. Wiwik sempat mencoba berbagai usaha sebelum akhirnya menemukan bidang yang sesuai.

“Awalnya saya membuat kue kering, tapi sudah berhenti. Sekarang saya fokus di kebun buah naga dan membantu usaha suami di bidang jual beli kendaraan bekas,” ungkapnya.

Dengan aktivitas barunya tersebut, Wiwik mengaku merasa lebih bahagia karena bisa menjalani hidup bersama keluarga tanpa harus terpisah jarak.

Cek Banjir di Muncar, Bupati Ipuk Instruksikan Pembersihan Drainase dari Sampah

Cerita serupa juga dialami Dwi Surantini, mantan PMI asal Desa Kendalrejo, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Dwi pernah bekerja di dua negara dan mengakui bahwa secara ekonomi, penghasilan di luar negeri memang lebih besar. Namun, kenyamanan hidup di kampung halaman memiliki nilai tersendiri.

“Orang kan pikirannya macam-macam. Ada yang cukup asal bisa di rumah sendiri dan kumpul sama keluarga. Ada yang berpikir ingin meningkatkan aset dengan bekerja di luar negeri,” kata Dwi.

Kini, Dwi menekuni usaha kerajinan tas anyaman. Produk buatannya dipasarkan di lingkungan sekitar desa, dan sebagian dipasarkan melalui marketplace untuk menjangkau konsumen luar daerah.

Penguatan Pola Kerja ASN, Banyuwangi Hadirkan Prof Rhenald Kasali Hadapi Era Quantum Age

Baik Wiwik maupun Dwi sepakat bahwa pemberdayaan mantan PMI yang telah kembali ke daerah asal merupakan hal penting agar mereka tetap mandiri dan berdaya secara ekonomi.

Kesadaran tersebut mendorong mereka bergabung dengan Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi) di desa masing-masing. Hingga kini, di Banyuwangi telah terbentuk 12 Desbumi yang tersebar di berbagai kecamatan.

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik peringatan Hari Pekerja Migran Internasional, yang digelar di Banyuwangi pada Senin–Selasa (15–16/12/2025), perwakilan Desbumi Banyuwangi menyampaikan berbagai gagasan strategis.

“Gagasan yang kami ajukan meliputi bidang sosial-budaya, ekonomi, dan politik-hukum,” kata Wiwik dalam forum tersebut, yang diikuti mantan pekerja migran dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga wilayah Indonesia bagian timur.

Artikel Terkait