Ribuan Penari Matangkan Persiapan Gandrung Sewu 2026, Pertama Kali Digelar Malam Hari

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 4 Oktober 2026, 15:13 WIB
1001101202
Penari gandrung Sewu melakukan latihan gabungan sabtu kemarin.

BanyuwangiNet.com – Ribuan penari peserta Gandrung Sewu 2026 mulai mematangkan persiapan menjelang pementasan utama yang akan digelar di Pantai Boom Marina Banyuwangi pada 24 Oktober 2026. Persiapan ditandai dengan latihan gabungan perdana di Stadion Diponegoro Banyuwangi, Sabtu (3/10/2026).

Latihan ini menjadi tahap penting untuk menyatukan gerak dan pola tari para peserta yang sebelumnya berlatih secara terpisah di daerah masing-masing.

Tahun ini, Gandrung Sewu mengusung tema “Kembang Dermo”. Pagelaran tari Gandrung kolosal tersebut juga menghadirkan konsep berbeda karena untuk pertama kalinya digelar pada malam hari dengan dukungan tata cahaya dan efek glow in the dark.

Ketua Pelatih Seniman dan Tari Banyuwangi (Patih Senawangi), Suko Prayitno, mengatakan latihan gabungan perdana berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, kemampuan para penari dalam menguasai pola dan gerakan tari saat ini telah mencapai sekitar 75 persen.

“Peserta Gandrung Sewu tahun ini sangat cepat adaptasi dan mempelajari pola dan gerak tari sehingga kami juga tidak terlalu kesulitan saat mengarahkan,” terangnya.

Latihan gabungan tersebut merupakan pertemuan pertama setelah para penari sebelumnya menjalani latihan secara mandiri di daerah masing-masing. Menurut Suko, latihan gabungan akan dilakukan setiap akhir pekan untuk memastikan seluruh peserta semakin siap menghadapi pementasan.

“Latihan gabungan ini merupakan yang pertama setelah sebelumnya para penari berlatih secara terpisah di wilayah masing-masing. Latihan gabungan akan kami gelar tiap akhir pekan untuk mematangkan penari,” katanya.

Peserta Gandrung Sewu 2026 tidak hanya berasal dari Banyuwangi. Sejumlah penari dari luar daerah juga terlibat, di antaranya dari Jakarta, Palembang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bangkalan, Malang, dan Blitar.

Salah satu peserta, Ardra Sachio Valerian Marenda, mengaku antusias mengikuti Gandrung Sewu untuk pertama kalinya. Pelajar MTsN 1 Kota Malang tersebut mengaku terkesan melihat semangat ribuan penari selama menjalani latihan.

“Saya takjub dengan ribuan penari Gandrung di sini. Meskipun berlatih sampai malam, namun masih sangat bersemangat. Keren,” ungkapnya.

Gandrung Sewu 2026 akan mengangkat tema “Kembang Dermo”, yang berkaitan dengan salah satu adat yang hidup dan berkembang di Banyuwangi.

Rangkaian acara akan dimulai pada 22 Oktober dengan penampilan Keroncong Banyuwangi dan Hadrah Kuntulan Caruk. Sehari berikutnya, 23 Oktober, agenda dilanjutkan dengan Musik Jalanan dan Gandrung Terob.

Puncak rangkaian digelar pada 24 Oktober. Sejumlah pertunjukan pendukung akan disajikan, mulai Jaranan Show, Meras Gandrung, atraksi drone, pesta kembang api hingga pementasan utama Gandrung Sewu. Rangkaian kemudian ditutup dengan konser musik.

Untuk pertama kalinya selama penyelenggaraan Gandrung Sewu, pementasan tahun ini dilakukan pada malam hari. Konsep tersebut memadukan gerak ribuan penari dengan tata cahaya, efek visual, atraksi drone, serta pertunjukan pendukung lainnya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan perubahan waktu pelaksanaan tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton dan wisatawan.

“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita hadirkan pada malam hari. Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” kata Ipuk.

Gandrung Sewu 2026 Digelar Malam Hari, 1.000 Penari Padukan Tari dan Tata Cahaya

Pelaksanaan Gandrung Sewu 2026 mendapat dukungan dari InJourney, holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata. Kolaborasi tersebut turut mendukung pengembangan konsep pertunjukan dalam suasana malam.

Pasar Banyuwangi Mulai Beroperasi, 560 Pedagang Tempati Lapak Baru

Ipuk menegaskan inovasi dalam penyelenggaraan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan karakter utama Gandrung Sewu sebagai pertunjukan budaya Banyuwangi.

“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Esensi utama Gandrung Sewu tetap seni tari Gandrung itu sendiri, dengan gerak, irama, ekspresi, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” ujarnya.

Artikel Terkait