Raline Shah Terpesona Pendopo Banyuwangi, Kagumi Arsitektur Hijau dan Nilai Budaya

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 13 Juni 2026, 16:31 WIB
1000894299
Raline Shah berbincang dengan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

BanyuwangiNet.com – Aktris dan figur publik, Raline Shah, dibuat terkesan saat mengunjungi Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, Jumat (12/6/2026) malam. Bangunan bersejarah yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Banyuwangi itu dinilainya memiliki keindahan arsitektur yang unik sekaligus sarat nilai budaya.

Selama berkeliling di area pendopo, Raline beberapa kali mengungkapkan kekagumannya terhadap desain bangunan yang memadukan warisan sejarah dengan konsep arsitektur modern ramah lingkungan.

“Such a beautiful. Bagus sekali,” ujar Raline saat menikmati berbagai sudut kawasan pendopo.

Raline berada di Banyuwangi selama empat hari, 12-15 Juni 2026. Selain menghadiri kegiatan Satu Indonesia, ia juga mengunjungi sejumlah destinasi wisata unggulan bersama keluarganya. Salah satu lokasi yang disambangi adalah Pendopo Sabha Swagata Blambangan, didampingi langsung oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Pendopo Sabha Swagata Blambangan merupakan bangunan cagar budaya yang telah berdiri sejak tahun 1771. Pada 2012, bangunan tersebut direvitalisasi dengan melibatkan arsitek Adi Purnomo melalui pendekatan yang tetap mempertahankan nilai sejarah sekaligus menerapkan konsep green building.

Konsep tersebut diwujudkan melalui desain yang memaksimalkan pencahayaan alami dan sirkulasi udara sehingga penggunaan energi listrik dapat diminimalkan. Salah satu bagian yang menarik perhatian Raline adalah area guest house yang dibangun menyerupai bunker bawah tanah dengan atap berupa hamparan rumput hijau.

“Keren. Tidak kelihatan kalau ada ruangan di dalam. Suasananya juga adem, bikin betah,” katanya.

Raline juga mengabadikan momen bersama keluarganya di sejumlah titik ikonik pendopo, termasuk area perbukitan hijau yang kerap disebut bukit “Teletubbies” serta halaman belakang yang sering dimanfaatkan sebagai lokasi pertemuan terbuka.

Selain menikmati arsitektur modern, Raline juga menyempatkan diri mengunjungi rumah adat Osing yang berada di kawasan belakang pendopo. Ia terlihat mengamati detail konstruksi bangunan tradisional tersebut yang dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan mengandalkan sistem pasak kayu.

Kunjungan kemudian berlanjut ke Sumur Sri Tanjung, sumur tua yang berkaitan dengan legenda asal-usul nama Banyuwangi. Dengan penuh antusias, Raline bahkan bercanda ingin mencoba air sumur yang dipercaya masyarakat membawa kesegaran.

“Saya akan coba air sumur ini yang katanya bikin awet muda,” ujarnya sambil tersenyum.

Senja di AWT Banyuwangi Dipadati Ribuan Wisatawan, Sajikan Hiburan dan Panorama Ijen

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menjelaskan, pembangunan berbagai fasilitas publik di Banyuwangi tidak hanya berorientasi pada fungsi, tetapi juga mengedepankan aspek estetika dan identitas budaya daerah.

Menurut Ipuk, pemerintah daerah secara konsisten melibatkan arsitek profesional untuk menghasilkan bangunan yang memiliki karakter kuat sekaligus mencerminkan kearifan lokal Banyuwangi.

“Banyuwangi membangun bersama arsitek, jadi tidak hanya memenuhi fungsinya namun juga unsur estetika. Kami juga menonjolkan gaya arsitektur lokal Banyuwangi untuk melestarikan kearifan lokal kita. Bahkan hotel dan homestay juga kami dorong untuk menampilkan kekhasan lokal dalam setiap desain bangunannya,” kata Ipuk.

Pilkades 130 Desa di Banyuwangi Digelar Secara Digital dengan E-Voting, Mulai Simulasi Tahun Ini

Sejumlah fasilitas publik di Banyuwangi memang dirancang oleh arsitek nasional ternama. Bandara Banyuwangi dan Masjid Pendopo misalnya, dirancang oleh Andra Matin. Sementara Grand Watudodol dan Stadion Diponegoro didesain oleh Budi Pradono, sedangkan kawasan heritage Inggrisan dirancang oleh Yori Antar.

Selama berada di Banyuwangi, Raline Shah dan keluarganya juga mengeksplorasi sejumlah destinasi unggulan lainnya. Di antaranya Desa Wisata Adat Kemiren yang menjadi pusat budaya Suku Osing, Kawah Ijen yang terkenal dengan fenomena alamnya, serta Taman Nasional Alas Purwo yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati dan kekayaan ekosistem hutan tropis.

Artikel Terkait