Program Banyuwangi Hijau Berbasis TPS3R, Upaya Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 5 Mei 2026, 19:16 WIB
WhatsApp Image 2026-05-05 at 19.15.02
Pemilahan sampah di area TPS3R Balak, Kecamatan Songgon.

BanyuwangiNet.com – Program Banyuwangi Hijau dengan sistem pengolahan sampah berbasis TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle) membawa perubahan signifikan terhadap kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah secara lebih tertib.

Inisiatif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi yang berkolaborasi dengan Borealis (Austria), Clean Rivers, dan Uni Emirat Arab ini hadir sebagai solusi atas persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan di tingkat desa, khususnya terkait sampah plastik.

Program ini menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen dan penanganan mencapai 70 persen. Fokus utamanya meliputi pemilahan sampah dari rumah tangga, peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan efektivitas layanan.

Sebelum hadirnya TPS3R, praktik pengelolaan sampah di banyak desa masih dilakukan secara konvensional. Warga kerap membakar sampah rumah tangga atau membuangnya ke lahan kosong dan aliran sungai. Kondisi tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Situasi ini sebelumnya terjadi di Desa Songgon, Banyuwangi. Kepala Desa Songgon, Qoderi, menyebut pengelolaan sampah di wilayahnya dulu dilakukan secara mandiri tanpa sistem yang jelas.

“Sebelumnya, kebanyakan dibakar atau dibuang ke sungai. Tidak ada sistem pengangkutan rutin, sehingga sering menumpuk dan menimbulkan bau,” kata Qoderi, Selasa (5/5/2026).

Antisipasi Dampak El Nino, Banyuwangi Siapkan Satgas Kemarau dan Pemetaan Rawan Kekeringan

Sejak hadirnya TPS3R Balak melalui Program Banyuwangi Hijau, perubahan mulai dirasakan. Sampah rumah tangga kini diangkut secara rutin dan dipilah sejak dari sumbernya, yakni di tingkat rumah tangga. Dampaknya, lingkungan desa menjadi lebih bersih dan tertata.

“Sampah sudah terkelola, lingkungan lebih bersih, dan warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. Kesadaran masyarakat juga meningkat karena ada edukasi dan pendampingan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kesadaran ekonomi warga juga ikut tumbuh. Masyarakat mulai memilah sampah bernilai ekonomis untuk dijual, sementara sampah lainnya diangkut petugas secara berkala.

“Sampah yang memiliki nilai ekonomis dijual, hasilnya bisa disisihkan untuk bayar retribusi sampah bulanan,” tambahnya.

Secara keseluruhan, sejak diluncurkan pada 2023 hingga kuartal pertama 2026, Program Banyuwangi Hijau telah menjangkau sekitar 500 ribu warga. Program ini tidak hanya menghadirkan layanan, tetapi juga membangun budaya pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.

Hingga 30 April 2026, sebanyak 73 desa di Banyuwangi telah terlayani. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Dwi Handajani, menyebut capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan sistem pengelolaan sampah yang terus diperluas.

“Banyuwangi Hijau bukan hanya soal pengangkutan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan dari hulu ke hilir. Dengan bertambahnya desa terlayani, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat dalam memisah dan mengelola sampah secara mandiri,” jelasnya.

Proyek Jembatan Sungai Lembu Banyuwangi Segera Dilelang

Program ini juga memberikan dampak ekonomi dengan menyerap 127 tenaga kerja di TPS3R Balak, Kecamatan Songgon, yang berperan dalam pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi sampah.

Data hingga akhir April 2026 mencatat, total 15.304 ton sampah berhasil dikumpulkan dari seluruh wilayah layanan. Dari jumlah tersebut, 8.548 ton merupakan sampah organik yang diolah melalui metode seperti komposting, sementara 3.623 ton sampah anorganik dikelola melalui pemilahan dan daur ulang bekerja sama dengan sektor pengelola material.

Perwakilan Project STOP Banyuwangi Hijau, Prasetyo Ibnu Toat, menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari konsistensi edukasi dan penerapan sistem berbasis data.

“Kami mendorong pemilahan sampah langsung dari rumah tangga, didukung edukasi berkelanjutan serta pemanfaatan teknologi digital untuk pencatatan dan pemantauan layanan. Partisipasi warga menjadi kunci utama keberhasilan Banyuwangi Hijau,” ujarnya.

Artikel Terkait