Produksi Gula Aren Organik Desa Kluncing Banyuwangi, Petani Raup Rp 90 Juta per Bulan
BanyuwangiNet.com – Di Banyuwangi terdapat produksi gula aren organik. Yakni Desa Kluncing, Kecamatan Licin, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gula aren. Kelompok tani di desa ini mayoritas menyadap nira dan mengolahnya menjadi gula merah aren. Yang menarik, gula aren di desa ini diolah secara organik.
Salah satu produsen gula aren organik adalah kelompok tani (poktan) Bukit Hijau. Beranggotakan 30 petani dan pembuat gula aren, kelompok ini dalam sebulan mampu memproduksi sekitar 7.500 gula merah aren. Jika rata-rata harga di pasaran Rp. 12 ribu per biji, maka poktan ini bisa meraup Rp. 90 juta/bulan.
“Gula aren kami organik dan sudah ditetapkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lesos) sejak 2012 lalu,” kata Ketua poktan Bukit Hijau, Sholeh, saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani disela program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Kluncing, Kamis (10/8/2023) lalu.
Untuk mendapatkan sertifikat organik tersebut, menurut Sholeh, harus melalui proses yang sangat ketat. Produksi gula aren organik dari hulu hingga hilir, harus benar-benar terjaga dan terkontaminasi bahan-bahan non organik.
Banyuwangi Night Run 2023, Tawarkan Landmark Kota di Malam Hari
“Gula aren kami murni dari air nira yang dipanaskan secara organik, tidak ada tambahan sulfit maupun bahan kimia lainnya selama prosesnya,” tegasnya.
Desa Kluncing terdapat banyak pohon nira. Di desa yang terletak di Kecamatan Licin tersebut ada sekitar 1.500 pohon aren liar. Selain itu warga juga menanam sendiri sebanyak 400 pohon aren. “Di desa ini ada sekitar 1.900 pohon aren,” ujarnya.
Setiap hari tiap pengrajin gula aren bisa memproduksi sekitar 20 liter nira yang disadap pada pagi dan sore. Dalam prosesnya nira ini dipanaskan dan dikumpulkan hingga menunggu waktu produksi. Produksi tiap tiga hari sekali rata-rata 50 liter. Dari produsksi tersebut menghasilkan 25 biji gula aren atau setara dengan 17,5 kilogram.
Gula aren organik dari desa ini tidak hanya dipasarkan di Banyuwangi, melainkan juga merambah ke kabupaten lainnya seperti Malang, Situbondo, Surabaya, dan kota-kota lainnya.
Kelompok tani Bukit Hijau juga membuat pupuk organik dari kotoran hewan untuk merawat pohon nira. Pupuk organik produksi mereka, selain untuk nira juga digunakan untuk tanaman hortikultura seperti durian, manggis, petai, jengkol, dan cabai.
Tiap hari kelompok ini mengumpulkan 50 karung kotoran kambing. Setelah difermentasi selama 4 hari, kotoran kambing itu digiling hingga halus lantas dicampur dengan arang sekam supaya gembur. Setelah itu untuk mempercepat penguraian dicampur dengan mikroba.
“Pupuk kami juga dipasarkan di Banyuwangi dan Situbondo. Untuk harga sekitar Rp 20-30 ribu tergantung ukuran kemasan,” ujar Sholeh.
Forkompimda dan Mahasiswa Banyuwangi Nyatakan Sikap Jaga Kondusifitas Pemilu
Bupati Ipuk sangat mengapresiasi komitmen Bukit Hijau mempertahankan kualitas dari gula aren organik produksi mereka. “Ini keren. Kualitas gula aren organik di desa ini terus terjaga dan diolah secara organik selama 10 tahun, sehingga bisa mempertahankan sertifikasi organik dari Lesos,” kata Ipuk.
Pemkab Banyuwangi akan terus mendukung pengembangan usaha petani, dengan memfasilitasi pengajuan sertifikasi produk organik. “Tahun ini kami memfasilitasi pengajuan sertifikasi organik untuk produk buah manggis, buah naga, jeruk, serta gula kelapa. Ini akan diperluas untuk produk-produk lainnya,” ungkap Ipuk.