Kisah Mbah Giono, TORA dan Mimpi Sejak Pra-Kemerdekaan
BanyuwangiNet.com – Saat Presiden Joko Widodo menemui para penerima program reforma agraria dan perhutanan sosial di Lapangan Maron, Genteng, Kabupaten Banyuwangi beberapa waktu lalu (27/12/2023), ada yang terlihat menarik. Duduk di barisan depan tamu kehormatan dengan mengenakan blangkon Jawa dan pakaian serba hitam.
Lelaki sepuh yang diapit oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani itu bernama Gatot Sugiono. Ia adalah salah satu penerima Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.
“Ini mimpi yang menjadi kenyataan,” ungkap warga Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon tersebut. Pasalnya, sejak puluhan tahun silam, orangtuanya bersama warga lainnya telah memperjuangkan status tanah tersebut. Bahkan, sejak republik ini belum merdeka.
Pasca Kunjungan Jokowi, Pengukuran Tanah Reforma Agraria Dikebut
“Menurut kisah dari bapak dulu, pada 1942, tanah ini disebut tanah pertanen (tanah pertanian). Kemudian, digaraplah sampai saat ini. Bahkan, sampai tinggal di sini,” ungkapnya.
Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, leluhur warga Sambungrejo itu tetap diperkenankan tinggal dan mengolah tanah tersebut. Akan tetapi, mereka tak memiliki hak kepemilikan atas tanah yang telah bertahun ditempati itu. “Statusnya masih disebut hutan,” jelasnya.
Untuk mengubah menjadi hak milik tersebut, telah dilakukan berbagai upaya. Sejak zaman orang tuanya, berbagai ikhtiar telah dilakukan. “Mulai dari tukar guling (lahan), pembelian, dan lain sebagainya. Tapi, gagal semua. Tidak sedikit yang malah berujung penipuan,” terangnya.
Handoko Sosok di Balik Hadirnya Jokowi di Banyuwangi
Usaha yang telah diupayakan berpuluh-puluh tahun itu, kini mulai terwujud. Warga mulai menerima Surat Keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tentang Pelepasan Kawasan Hutan atau biasa disebut SK Biru. SK ini menjadi penanda awal akan bukti sah kepemilikan tanah.
Akan tetapi, SK Biru tersebut masih belum final. Dari SK tersebut perlu ditingkatkan lagi menjadi Sertipikat Hak Milik. “Ini masih belum goal. Ini perlu terus didorong sampai warga memiliki sertipikat,” ungkap Pembina Paguyuban Penerima Manfaat TORA dan Perhutanan Sosial Banyuwangi, Handoko, Kamis (4/1/2024).
Untuk itu, imbuh Handoko, pihaknya menghadirkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, sebagai upaya akselerasi untuk mewujudkan sertipikat yang telah diimpikan sejak pra kemerdekaan tersebut. “Kami bersyukur Pak Presiden meresponnya dengan baik. Ditargetkan tiga bulan, syukur-syukur bisa rampung satu bulan,” ungkap Caleg DPR RI Dapil Jatim III dari Partai Golkar nomor urut 2 itu.
Pertama di Indonesia, Bandara Banyuwangi Raih Sertifikasi Green Building Airport dari Badan Dunia
Handoko menambahkan, dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri ATR/ BPN Hadi Tjajanto untuk menindaklanjuti instruksi presiden tersebut. Menurutnya, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wilayah Jawa Timur ditugaskan untuk menuntaskan hal tersebut. “Insyallah sebelum Januari ini sudah rampung,” ungkap tokoh muda asal Sugihwaras, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore itu.
Proses pengukuran di sejumlah desa penerima TORA telah dilakukan sejak akhir Desember lalu. Sejumlah petugas dari BPN se-Jawa Timur dikerahkan untuk proses pengukuran lahan yang telah mendapatkan SK Biru ataupun masih dalam proses pengajuan.
Mbah Giono yang menyaksikan tanahnya diukur oleh petugas BPN itu tak kuasa menahan linangan air matanya. Impian yang didambakan sejak masa orangtuanya dulu sebentar lagi terwujud. Ia bisa mewariskan sejumput tanahnya tersebut kepada anak cucunya dengan tenang. Tak lagi dibayang-bayangi sengketa dan konflik.
“Maturnuwun, Pak Jokowi. Maturnuwun, Pak Handoko sampun ngawal mimpi niki,” pungkasnya dalam bahasa Jawa, menyampaikan rasa terima kasihnya.