Festival Literasi Osing 2026, Cara Banyuwangi Tanamkan Cinta Bahasa Daerah pada Anak
BanyuwangiNet.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong generasi muda untuk mencintai dan menggunakan Bahasa Osing sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Salah satunya melalui Festival Literasi Osing yang digelar secara konsisten setiap tahun.
Festival tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal, mempraktikkan, sekaligus mengembangkan kemampuan literasi menggunakan Bahasa Osing. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pelestarian bahasa daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Festival Literasi Osing 2026 digelar pada Sabtu pagi (5/9/2026) di area creative space kawasan Lapangan Taman Blambangan. Ratusan pelajar SD dan SMP dari 25 kecamatan di Banyuwangi mengikuti berbagai perlombaan yang mengangkat bahasa dan budaya Osing.
Para peserta tampil dalam sejumlah kategori, mulai dari Memengan (permainan) sandiwara, geguritan atau puisi Osing, nembang Osing hingga mocoan lontar.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut hadir menyaksikan penampilan para peserta. Ia mengatakan festival tersebut menjadi salah satu cara pemerintah daerah memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengembangkan kemampuan literasi sekaligus mengenal budaya lokal.
“Ajang ini adalah cara kami memfasilitasi anak-anak Banyuwangi agar tidak hanya cakap dalam literasi pada umumnya, namun juga bisa mengangkat budaya lokal, yakni Bahasa Osing,” kata Ipuk.
Ipuk berharap Festival Literasi Osing dapat menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap budaya daerah. Menurutnya, keberlangsungan Bahasa Osing sangat bergantung pada kemauan generasi muda untuk terus mengenal dan menggunakannya.
Ia tidak mempersoalkan anak-anak Banyuwangi mempelajari teknologi maupun berbagai pengetahuan dari luar daerah. Namun, kemajuan tersebut diharapkan tetap berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap identitas budaya sendiri.
“Anak-anak silahkan kalian belajar teknologi, silakan baca apapun yang kalian ingin pelajari, namun jangan pernah meninggalkan identitas daerah. Budaya Osing tidak boleh tergusur oleh perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurut Ipuk, Banyuwangi memiliki keberagaman suku, budaya dan adat istiadat yang harus terus dirawat. Di tengah keberagaman tersebut, identitas lokal tetap perlu mendapatkan perhatian agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
“Mudah-mudahan di tengah keberagaman budaya yang ada di Banyuwangi, Bahasa Osing tetap menjadi bahasa yang dipertahankan sebagai kekuatan lokal kita semuanya,” tegasnya.
Festival ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan Bahasa Osing. Menurut Ipuk, proses mengikuti perlombaan juga melatih kemampuan literasi dan berpikir kritis.
Sebelum tampil, para peserta harus mempelajari materi, membaca dan memahami informasi yang akan disampaikan. Proses tersebut membuat siswa tidak sekadar menghafal, tetapi juga belajar memahami isi dan menyampaikan pesan secara tepat.
“Sebelum lomba tentu anak-anak harus belajar, membaca, kemudian memahami informasi dan poin-poin penting di dalamnya. Sehingga mereka bisa menyampaikan pesan yang tepat. Di sinilah mereka juga belajar bagaimana berpikir kritis,” kata dia.
Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sutikno, mengatakan Festival Literasi Osing 2026 membuka sembilan jenis perlombaan.
Kesembilan kategori tersebut yakni geguritan (puisi Osing), ngewer (komedi tunggal), nulis cerita Osing, nulis aksara Osing, mendongeng, menyanyi lagu Osing, pidato Bahasa Osing, Memengan sandiwara, serta mocoan lontar.
“Khusus mocoan lontar hanya dibuka untuk kategori SMP, sedangkan lomba lainnya bisa diikuti baik SD maupun SMP,” ujarnya.
Investor Tiongkok MATA Ecology Lirik Banyuwangi untuk Investasi Budidaya Tiram Berkelanjutan
Total peserta mencapai 429 pelajar. Rinciannya, 259 peserta berasal dari jenjang SD dan 170 peserta dari jenjang SMP yang mewakili berbagai wilayah di Banyuwangi.
Kompetisi tidak hanya berlangsung di area creative space kawasan Lapangan Taman Blambangan. Sebagian perlombaan juga digelar di gedung SDN 1 Kepatihan.
Gesah Bareng Bupati Bahas Pendidikan Banyuwangi, dari Beasiswa hingga Masa Depan Disabilitas
Sutikno menjelaskan, para juara pertama dari masing-masing kategori nantinya akan mendapat kesempatan mewakili Banyuwangi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi hingga nasional.
“Juara satu dari masing-masing lomba nantinya akan kita kirim untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi dan nasional,” pungkasnya.
Selain kompetisi literasi, Festival Literasi Osing 2026 juga diisi berbagai pertunjukan dan tradisi budaya masyarakat Osing. Pembukaan acara antara lain dimeriahkan iringan lagu-lagu Osing serta prosesi kupat luar.