ASDP Ungkap Penyebab Antrean Ketapang-Gilimanuk dan Strategi Mengatasinya

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Jumat, 11 September 2026, 22:10 WIB
IMG_20251226_123416
Sejumlah kendaraan hendak menuju kapal penyeberangan di Pelabuhan Ketapang.

BanyuwangiNet.com – PT ASDP Indonesia Ferry menilai persoalan kepadatan kendaraan di Lintas Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk perlu ditangani secara menyeluruh. Penyebab antrean tidak hanya berkaitan dengan jumlah kendaraan maupun kapal yang beroperasi, tetapi juga kapasitas efektif layanan di lintasan tersebut.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, pertumbuhan permintaan penyeberangan harus diimbangi dengan kapasitas layanan yang tersedia. Hal tersebut menjadi penting, terutama untuk kendaraan logistik yang memiliki karakteristik dan kebutuhan pelayanan berbeda.

“Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi kapasitas efektif layanan, khususnya untuk kendaraan logistik. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari stabilisasi operasional hingga penguatan kapasitas infrastruktur dan fasilitas pendukung,” jelasnya, Jumat (11/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Media Brief Discussion ASDP bersama Forum Wartawan Perhubungan yang digelar di Kantor Kementerian Perhubungan. Forum tersebut secara khusus membahas strategi penanganan kepadatan di Lintas Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Perkapalan dan Kepelautan Samsuddin, Plt. Direktur KPLP Triono, serta Corporate Secretary ASDP Windy Andale.

Dalam forum tersebut, ASDP memaparkan kondisi aktual Lintas Ketapang-Gilimanuk dan berbagai faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dengan kapasitas layanan.

Data periode 30 Agustus hingga 5 September 2026 mencatat sebanyak 43.327 kendaraan melintas di Ketapang-Gilimanuk. Angka tersebut meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, terdapat 176 kapal yang beroperasi dengan total 1.210 trip. Jumlah kapal turun 11 persen, sedangkan jumlah perjalanan kapal turun 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran tekanan yang terjadi di lintasan, terutama karena kendaraan logistik menjadi salah satu volume dominan ketika kepadatan meningkat.

Selain pertumbuhan kendaraan, ASDP menyebut terdapat sejumlah faktor lain yang ikut memengaruhi kapasitas layanan. Di antaranya menurunnya kapasitas lintasan alternatif, terbatasnya fleksibilitas kendaraan logistik, belum dapat digunakannya Dermaga Bulusan, serta sejumlah dermaga yang kapasitasnya masih dalam tahap peningkatan.

Artinya, peningkatan jumlah kapal tidak serta-merta membuat kapasitas penyeberangan bertambah secara proporsional. Kemampuan dermaga, pola operasi, kondisi kapal, hingga karakteristik kendaraan yang dilayani turut menentukan kapasitas efektif lintasan.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus mengurai antrean ketika kepadatan terjadi. ASDP juga menyiapkan pembenahan yang bersifat lebih mendasar untuk menghadapi pertumbuhan mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik.

“Yang kami lakukan bukan hanya mengurai antrean ketika kepadatan terjadi, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih fundamental agar lintasan memiliki kapasitas dan fleksibilitas yang semakin baik dalam menghadapi pertumbuhan permintaan ke depan,” jelasnya.

Untuk jangka pendek, ASDP menyiapkan stabilisasi melalui pengendalian arus kendaraan dan penguatan kapasitas operasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, langkah yang disiapkan mencakup peningkatan kapasitas dermaga, koordinasi pengembangan buffer area, penyiapan akses pendukung, serta penambahan armada.

Penambahan armada tersebut tidak hanya diarahkan untuk Ketapang-Gilimanuk, tetapi juga mendukung layanan Tanjung Wangi-Lembar melalui operasional kapal perbantuan.

Dari sisi infrastruktur, ASDP menargetkan peningkatan kapasitas Dermaga II Gilimanuk dan Dermaga V Ketapang. Kedua dermaga yang saat ini berupa dermaga ponton tersebut ditingkatkan menjadi dermaga movable bridge (MB). ASDP menargetkan fasilitas tersebut sudah dapat dioperasikan paling lambat pada periode Angkutan Lebaran 2027.

Antrean Kendaraan di Ketapang Berkurang, ASDP Siapkan 27 Kapal dan Pola TBB

Peningkatan kapasitas dermaga menjadi bagian penting karena kendaraan logistik yang melintas di lintasan Ketapang-Gilimanuk semakin banyak dan berukuran besar. Dengan infrastruktur yang mampu mendukung kendaraan bertonase lebih tinggi, fleksibilitas pelayanan diharapkan ikut meningkat.

Selain infrastruktur dan armada, forum tersebut juga membahas aspek digitalisasi pelayanan. Salah satunya melalui penyelarasan data antara sistem Ferizy milik ASDP dengan Inaportnet.

Integrasi tersebut terutama berkaitan dengan data manifest kendaraan dan penumpang. Keselarasan data diperlukan agar informasi yang digunakan dalam proses pelayanan tidak berbeda antarsistem.

ASDP Ketapang Tingkatkan Kapasitas Dermaga Jadi 50 Ton, Antisipasi Lonjakan Kendaraan

Plt. Direktur KPLP Triono mengatakan, integrasi data manifest Ferizy dan Inaportnet diharapkan dapat berjalan dengan baik sehingga perbedaan data dapat diminimalkan.

“Dengan adanya integrasi dan keselarasan data, diharapkan dapat meminimalisasi perbedaan data manifest sehingga informasi yang digunakan dalam proses pelayanan dapat lebih akurat dan konsisten,” ujarnya.

Artikel Terkait