Tradisi Mepe Kasur Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi, Ritual Tolak Bala Sambut Tumpeng Sewu

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Kamis, 21 Mei 2026, 21:15 WIB
WhatsApp Image 2026-05-21 at 16.04.39
Seorang warga Desa Kemiren menjemur kasurnya saat tradisi Mepe Kasur di Desa Kemiren.

BanyuwangiNet.com – Masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur, Kamis (21/5/2026). Tradisi turun-temurun tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian ritual adat bersih desa dalam menyambut bulan Dzulhijjah sekaligus pembuka festival budaya Tumpeng Sewu.

Sejak pagi hari, ribuan kasur berwarna merah dan hitam tampak berjajar di depan rumah warga sepanjang jalan desa. Pemandangan khas itu hanya bisa ditemui setahun sekali saat tradisi Mepe Kasur berlangsung.

Warga dari berbagai usia terlihat kompak membersihkan kasur dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari sambil memukul permukaan kasur menggunakan penebah rotan untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel.

Bagi masyarakat Osing, tradisi tersebut bukan sekadar membersihkan perlengkapan tidur, melainkan sarat makna filosofi dan doa keselamatan bagi keluarga. Salah satu warga Kemiren, Mbah Pi’i, mengatakan, warna merah dan hitam pada kasur memiliki makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun.

“Merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam berarti kelanggengan. Ini jadi simbol bahwa dalam rumah tangga, kita harus berani dan langgeng dalam menjalaninya,” ungkapnya.

Kemiren Banyuwangi, Desa Adat Osing Banyuwangi yang Mendunia lewat Keramahan dan Tradisi

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, menjelaskan kasur dianggap sebagai benda yang paling dekat dengan kehidupan manusia sehingga wajib dibersihkan secara ritual. Prosesi penjemuran pun dilakukan pada waktu tertentu dan disertai doa-doa khusus.

“Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” jelas Suhaimi.

Dalam tradisi masyarakat Osing, seluruh kasur yang dijemur harus dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam. Masyarakat percaya jika kasur dibiarkan hingga sore atau malam hari, maka khasiat spiritualnya akan hilang.

“Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa ndak sehat,” tambahnya.

Tradisi Mepe Kasur juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan rumah tangga masyarakat Osing. Kasur merah hitam biasanya diberikan orang tua kepada anak perempuan yang menikah sebagai simbol doa agar rumah tangga mereka harmonis dan langgeng.

Selain itu, ketebalan kasur juga dipercaya mencerminkan kondisi sosial pemiliknya. Semakin tebal kasur, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan keluarga tersebut di mata masyarakat desa.

Keramahan Tradisi Suguh Gupuh Lungguh Suku Osing di Kemiren

Tradisi Mepe Kasur menjadi pembuka rangkaian besar festival adat Tumpeng Sewu yang berlangsung selama dua hari, 21-22 Mei 2026. Setelah prosesi penjemuran kasur selesai, warga dan wisatawan disuguhi berbagai pertunjukan budaya khas Osing.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian Kuntulan, arak-arakan Barong keliling desa, selamatan Tumpeng Sewu, hingga tradisi Mocoan Lontar Yusuf pada malam hari. Memasuki malam kedua, suasana budaya di Kemiren semakin semarak dengan pertunjukan Gandrung Terob di balai desa dan atraksi budaya lainnya di Rumah Barong Tresno Budoyo.

Tradisi Mepe Kasur dan Tumpeng Sewu menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Osing tetap menjaga warisan budaya leluhur sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga di tengah perkembangan zaman.

Artikel Terkait