Dr. Tan Shot Yen Bekali Kader Posyandu Banyuwangi Soal Gizi Balita dan Pencegahan Stunting

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 19 November 2025, 20:51 WIB
Talkshow Gerakan Posyandu Aktif di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Rabu (19/11/2025).
Talkshow Gerakan Posyandu Aktif di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Rabu (19/11/2025).

BanyuwangiNet.com – Pemkab Banyuwangi terus memperkuat kualitas layanan kesehatan masyarakat melalui peningkatan kapasitas kader Posyandu. Sebagai garda depan pelayanan kesehatan ibu dan anak, para kader dinilai perlu memahami isu gizi secara komprehensif, terutama terkait pencegahan stunting.

Untuk itu, Pemkab Banyuwangi menghadirkan Pakar Gizi Dr. dr. Tan Shot Yen dalam kegiatan Gerakan Posyandu Aktif yang digelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Rabu (19/11/2025).

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyampaikan bahwa peningkatan literasi gizi merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah.
“Pembangunan manusia melalui pemenuhan gizi dan kesehatan anak telah menjadi prioritas Bupati Ipuk. Maka, kami pun menghadirkan secara istimewa dokter Tan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa para kader mendapat kesempatan belajar langsung dari pakar yang berpengalaman.

Lembaga Sensor Indonesia Sebut Banyuwangi Layak jadi Pusat Industri Sinema

“Ibu-ibu kader beruntung bisa mengikuti ‘kelas’ dokter Tan. Ilmunya bisa diterapkan nanti saat pulang ke rumah dan ditularkan ke ibu-ibu yang lain,” kata Mujiono.

Sebanyak 400 kader Posyandu, kepala puskesmas, pembina Posyandu, dan anggota PKK hadir untuk mengikuti materi tentang pemenuhan gizi balita, termasuk balita berisiko stunting. Dr. Tan, yang dikenal sebagai dokter, ahli gizi, dan penulis, menekankan pentingnya kompetensi kader dalam menghadapi persoalan gizi di masyarakat.

Menurutnya, ada 25 kompetensi yang seharusnya dimiliki kader Posyandu, dan salah satu yang paling mendasar adalah pemahaman tentang stunting.
“Percuma kita mencegah kalau kita enggak ngerti stunting itu apa, karena mencegahnya nanti serampangan,” tegasnya.

Dr. Tan menjelaskan bahwa indikator stunting harus dilihat melalui pengukuran tinggi badan menurut umur, bukan semata berat badan.

Banyuwangi Perkuat Layanan Stroke dengan Sistem Rujukan Cepat dan Neurointervensi
“Tandanya adalah di kurva tinggi badan menurut umur. Jadi bukan sekadar berat badan,” jelasnya.

Dalam penjelasannya, Dr. Tan memaparkan konsep 5 pintu masuk stunting yang harus diwaspadai sejak masa kehamilan. Faktor risiko tersebut mencakup:

Ibu hamil anemia, Kekurangan energi kronik, Lingkar lengan atas kecil, Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, Anemia pada ibu atau bayi.

Situasi ini, menurutnya, bisa diperburuk bila proses persalinan dan perawatan awal tidak tepat, seperti tidak dilakukan inisiasi menyusu dini, kegagalan pemberian ASI eksklusif, pola MPASI yang tidak benar, dan anak yang sering sakit.

“Hal ini bisa berisiko lebih saat kelahiran tidak dilakukan inisiasi menyusui dini, kegagalan ASI eksklusif, MPASI tidak benar, dan anak sering sakit,” ungkapnya.

Sirkuit BMX Muncar Banyuwangi, Lahirkan Juara Dunia dan Jadi Pusat Latihan Berstandar Olimpiade

Sementara itu, 5 pintu keluar stunting mencakup langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan kader dan masyarakat, yaitu:

Peningkatan literasi, edukasi gizi, sanitasi yang baik, imunisasi lengkap, perencanaan keluarga.

“Maka di sinilah perlunya peran kader yang memiliki kapasitas baik. Kader harus bisa jadi motivator laktasi, mengedukasi masyarakat agar tidak mengalami malnutrisi, bahkan saat ada yang anti vaksin, kader juga harus bisa menangani,” kata Dr. Tan.

Sesi talkshow ditutup dengan diskusi interaktif. Para peserta menyampaikan komitmen bersama untuk memperkuat peran Posyandu sebagai ujung tombak layanan kesehatan keluarga di Banyuwangi.