KNKT Tegaskan Cuaca Bukan Penyebab Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 9 Juli 2025, 10:50 WIB
Deputi Operasi SAR dan Kesiapsiagaan Basarnas R Eko Suyatno menjelaskan hasil pencarian pada H+2 tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, Jumat (4/7/2025). Hasil pencarian nihil.
Deputi Operasi SAR dan Kesiapsiagaan Basarnas R Eko Suyatno menjelaskan hasil pencarian pada H+2 tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, Jumat (4/7/2025). Hasil pencarian nihil.

BanyuwangiNet.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa tenggelamnya kapal feri KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu, 2 Juli 2025, tidak disebabkan oleh faktor cuaca.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, yang mengatakan bahwa cuaca bukan alasan utama dalam insiden tragis tersebut.

“Kalau masalah cuaca, enggak ya. Enggak itu maksudnya cuaca adalah pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Kita sebagai manusia sudah diajarkan ketika mau berlayar, apakah cuaca tersebut bisa dilewati atau tidak,” ujarnya, Selasa malam (8/7/2025).

Identitas Dua Korban KMP Tunu Pratama Jaya Berhasil Diidentifikasi, Bukan Termasuk dalam Daftar Manifes

Menurut Soerjanto, kondisi cuaca seharusnya sudah menjadi pertimbangan penting saat mengisi Surat Perintah Berlayar (SPB), dokumen resmi yang wajib dimiliki kapal sebelum berlayar.

“Mereka juga melihat cuaca saat mengisi SPB, apakah layak dilayari oleh kapal ini atau tidak,” sambungnya.

KNKT sendiri masih mendalami sejauh mana pemahaman awak kapal terhadap informasi cuaca saat kejadian. Tim investigasi juga telah memeriksa saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai situasi sebelum kapal tenggelam, termasuk soal gelombang tinggi yang disebut-sebut terjadi saat itu.

Identitas Dua Korban KMP Tunu Pratama Jaya Berhasil Diidentifikasi, Bukan Termasuk dalam Daftar Manifes

Meski telah melakukan pemeriksaan awal, KNKT belum dapat menyimpulkan apakah ada unsur kesalahan manusia (human error) yang dominan dalam insiden tersebut. Penyelidikan masih terus berlangsung.

“Fakta-fakta masih kami kumpulkan. Nanti hasilnya setelah kami analisa,” jelas Soerjanto.

Ia menambahkan jika ada kesalahan manusia, hal itu bisa berasal dari berbagai faktor, mulai dari kesalahan organisasi, kelelahan awak kapal, hingga masalah prosedural lainnya.

“Sampai saat ini, kami belum bisa menentukan yang dominan dari masalah ini,” tambahnya.

 

Artikel Terkait