Sunwangi, Beras Bergizi Tinggi Asal Banyuwangi Disiapkan Jadi Menu Utama Program Makan Bergizi Gratis

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Rabu, 25 Juni 2025, 20:48 WIB
MENU MBG - Panen raya beras biofortifikasi di Banyuwangi, Rabu (25/6/2025). Badan Gizi Nasional (BGN) akan menjadikan beras biofortifikasi yang lebih kaya kandungan gizi, sebagai menu pengganti beras regular dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MENU MBG - Panen raya beras biofortifikasi di Banyuwangi, Rabu (25/6/2025). Badan Gizi Nasional (BGN) akan menjadikan beras biofortifikasi yang lebih kaya kandungan gizi, sebagai menu pengganti beras regular dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BanyuwangiNet.com– Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah pertama di Indonesia yang mengembangkan ekosistem industri beras biofortifikasi, dan kini beras bernama Sunwangi ini disiapkan menjadi bahan utama dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah.

Beras biofortifikasi merupakan jenis beras hasil penguatan kandungan nutrisi melalui teknologi pertanian, dan kini dikembangkan secara massal di Banyuwangi. Kandungan gizinya meliputi vitamin A, B1, B3, B9 (asam folat), B12, zat besi, dan zinc—lebih tinggi dibandingkan beras biasa.

Direktur Sistem Pemenuhan Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Nurjaeni, menyatakan bahwa MBG memang membutuhkan bahan pangan yang memiliki kualitas gizi lebih tinggi. Oleh karena itu, beras biofortifikasi menjadi salah satu solusi ideal.

Banyuwangi Resmi Luncurkan Sunwangi, Ekosistem Beras Biofortifikasi Pertama Berskala Industri di Indonesia

“Tentu solusinya adalah produk-produk seperti beras biofortifikasi ini, yang mengandung zat gizi di atas produk-produk regular,” ujar Nurjaeni saat menghadiri panen raya padi biofortifikasi di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Rabu (25/6/2025).

Program pengembangan beras biofortifikasi di Banyuwangi telah dimulai sejak 2024 dan kini memasuki fase industrialisasi. Pemerintah daerah meluncurkan merek Sunwangi (Sun Rice of Java Banyuwangi) sebagai identitas produk lokal unggulan berbasis inovasi pangan bergizi.

Panen raya di Singojuruh menandai tonggak penting dalam pengembangan ini, sekaligus menunjukkan kesiapan daerah dalam mendukung kebutuhan logistik MBG. Menurut Nurjaeni, penggunaan Sunwangi dalam program MBG akan dilakukan secara bertahap sambil menunggu kapasitas produksi mencukupi.

“Jumlah dapur MBG di seluruh Indonesia saat ini mencapai 32 ribu. Sekitar 120 di antaranya berada di Banyuwangi. Untuk menyuplai kebutuhan itu, tentu kita butuh pasokan dalam jumlah besar,” jelasnya.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Minta Bupati Ipuk Inventarisir Kebutuhan Banyuwangi

Tahun depan, luas lahan budidaya Sunwangi ditargetkan mencapai 500 hektare, guna mendukung peningkatan produksi.

Sebagai mitra distribusi, Perum Bulog Wilayah Jawa Timur telah mulai menyerap beras biofortifikasi sejak 2024. Kepala Perum Bulog Jatim, Langgeng Wisnu Adi Nugroho, menyebutkan pihaknya membeli 5 ton beras biofortifikasi dan mulai mendistribusikannya dengan merek Sunwangi.

Karena tergolong sebagai produk nonreguler dengan kandungan gizi lebih tinggi, harga pembelian gabahnya pun berada di atas harga dasar.

“Pengalaman kemarin, harga dari petani kami tebus di angka Rp6.700 per kilogram untuk gabah kering panen,” ujarnya.

Gibran Kunjungi Pesantren Mambaul Ulum Banyuwangi, Perkuat Silaturahmi Ulama-Umara

Setelah dikemas, beras Sunwangi dipasarkan dengan harga Rp14.000 per kilogram. Dengan skema industrialisasi yang terus diperluas, Bulog memperkirakan penyerapan akan meningkat signifikan dalam waktu dekat.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik langkah ini, karena selain mendukung program nasional untuk pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, pengembangan Sunwangi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Menginap di Banyuwangi, Wapres Gibran Puji Kuliner, Wisata, dan Kebersihan Kota: “Semua Harus ke Sini”

“Kami bersyukur Sunwangi menjadi bagian dari program MBG. Dengan ekosistem beras biofortifikasi ini, kami tidak hanya mendukung pemenuhan gizi nasional, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan perekonomian Banyuwangi,” ujar Ipuk.

 

Artikel Terkait