Banyuwangi Dorong Diversifikasi Pangan dengan Produk Olahan
BanyuwangiNet.com – Produk pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan di Banyuwangi semakin diminati, tidak hanya dalam bentuk bahan baku tetapi juga produk olahan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong diversifikasi pangan hasil bumi Banyuwangi melalui produk olahan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya.
“Kita berikan pelatihan dari hulu ke hilir kepada masyarakat, mulai dari pengolahan, marketing, hingga pengelolaan keuangannya. Dengan skill tersebut harapannya kesejahteraan para petani, nelayan, dan lainnya Banyuwangi bisa semakin meningkat,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Di Dusun Wonokusumo, Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, terdapat salah satu sentra produksi gula semut organik. Terletak di kaki Pegunungan Ijen Banyuwangi, produksi gula semut organik “Tetes Seludang” ini banyak digemari oleh kalangan menengah ke atas. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, gula semut yang juga dikenal sebagai gula kelapa (nira) semakin diminati karena memiliki banyak manfaat kesehatan seperti mencegah anemia, diabetes, kolesterol, meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan peredaran darah, dan banyak manfaat lainnya.
Produk gula semut ini dikemas dengan menarik dan dijual dengan harga yang terjangkau. Proses produksinya dilakukan secara organik dan higienis, serta telah mendapatkan sertifikat halal dan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Warga Dusun Wonokusumo menjual olahan kelapa/aren dalam bentuk produk jadi seperti gula semut, gula jawa, dan varian gula organik lainnya, sehingga nilai ekonomisnya meningkat.
Beras Organik Banyuwangi Tersedia di 18.000 Supermarket se-Indonesia
Untuk mendukung industri kreatif para petani dan pengrajin di dusun ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah memberikan berbagai pelatihan dan memfasilitasi sertifikasi halal dan PIRT. Selain itu, Pemkab juga memfasilitasi mereka untuk menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan. Produksi gula semut di dusun ini merupakan industri rumahan dengan sekitar 20 petani nira dan 15 pengrajin yang tergabung dalam kelompok tani Makmur Bersama.
Banyuwangi juga memiliki Program “Jagoan Banyuwangi” yang bertujuan menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan anak muda. Pada 2023, sebanyak 813 anak muda dari 271 tim mengikuti ajang ini dengan total hadiah modal usaha sebesar Rp. 287,5 juta. Program ini terdiri atas tiga kategori inkubasi bisnis yakni Jagoan Tani (agribisnis), Jagoan Bisnis (non-agribisnis), dan Jagoan Digital (start-up).
Juara pertama Jagoan Tani adalah Javawangi, yang mengusung pemberdayaan petani rempah dengan produk olahan makanan berbahan dasar rempah-rempah nusantara, seperti jahe jelly drink dan jahe latte. Produk Javawangi dikemas dengan menarik, misalnya rempah bubuk dalam kantong celup dan fast drink dalam botol dan cup yang modern.
Selain itu, dalam sektor perikanan, nelayan didorong tidak hanya untuk menangkap dan menjual hasil tangkapannya, tetapi juga untuk mengolah ikan menjadi berbagai produk turunan seperti nugget, bakso, kerupuk, dendeng, balado ikan, dan banyak lainnya. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan berbagai program yang menyasar masyarakat pesisir dan ibu-ibu nelayan, termasuk pelatihan membuat produk olahan ikan, pelatihan pemasaran online, dan manajemen pengelolaan keuangan.