Festival Arsitektur Banyuwangi, Pamerkan Ratusan Karya Arsitek Nusantara hingga Dunia

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 19 Juni 2023, 19:00 WIB
Desain-tanpa-judul-1

“Bagi Banyuwangi arsitektur adalah bagian penting dari pembangunan. Kehadiran arsitektur tidak hanya menjamin kualitas bangunan, namun juga meliputi fungsional, artistik dan sisi-sisi lain yang jarang diperhatikan,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

“Melalui Festival Arsitektur Nusantara adalah komitmen Banyuwangi mendukung pengembangan kekayaan arsitektur lokal yang sangat beragam di Tanah Air,” tambah Ipuk.

Dalamm FAN 2023 juga dirangkai dengan perayaan kemenangan Bandara Banyuwangi dalam ajang Aga Khan Award (Penghargaan Internasional bidang arsitektur).

Bupati Ipuk Resmikan Gedung Creative Hub Banyuwangi, Tempat Inkubator Anak Muda Kreatif

Direktur Aga Khan Award For Architecture, Farrokh Derakhshani dari Jenewa, Swiss, juga dijadwalkan hadir.

Para anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) hingga sejumlah arsitek ternama seperti Andra Martin, Yori Antar, Deni Gondo, dan lainnya juga dijadwalkan turut hadir.

Ditambahkan Sekretaris Dinas PU Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (PU CKPP) Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, FAN 2023 difokuskan di tiga venue yakni Gedung Juang 45, Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, dan Bandara Banyuwangi.

Festival Kitab Kuning Banyuwangi, Warisan Keilmuan Ulama Nusantara

Tema di tiap-tiap lokasi berbeda. Di pendopo, kata dia, menampilkan desain arsitektur yang akan dibangun di Banyuwangi di masa depan.

“Misalnya, museum air karya arsitek Adi Purnomo yang akan dibangun di Pabrik Danone Banyuwangi, museum kereta apikarya Denny Gondo di PT INKA, degung Inggrisan karya Yori Antar, dan banyak lainnya.” kata Komang.

Di Gedung Juang menampilkan karya arsitek yang sudah eksisting di Banyuwangi maupun dunia, yang memenangi ajang Aga Khan Award.

Di antaranya, Urban River Spaces and Community Spaces in Rohingya Refugee Response, Bangladesh; Argo Temporary Art Museum and Cultural Centre, Iran; Renovation of Niemeyer Guest House, Tripoli; Kamanar Secondary School, Senegal; serta Bandara Internasional Banyuwangi, Indonesia.

Selanjutnya di Bandara Banyuwangi yang merupakan karya arsitek, Andra Matin. Ini merupakan bandara hijau pertama yang dinilai mampu mengubah konstelasi arsitektur kebandaraan.

“Sebagai apresiasi kita juga menampilkan workshop dan project bandara Andra Matin yang lain. Puluhan karya arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur juga akan turut meramaikan,” urai Komang.

Banyuwangi Jaman Bengen Pamerkan Ratusan Benda Kuno Dinasti Tang hingga Peninggalan Kerajaan Blambangan

Komang menambahkan, selain pameran arsitektur, FAN 2023 diwarnai kegiatan fieldtrip pada 22-23 Juni. Kegiatan ini dikemas dalam konsep nature (alam) dan heritage (sejarah).

Di hari pertama, peserta akan diajak berkeliling ke sejumlah destinasi untuk menikmati keindahan alam Banyuwangi. Seperti, savana Sadengan dan Pantai Plengkung yang menjadi surga bagi peselancar dunia.

Hari kedua mereka akan menikmati keindahan bangunan bersejarah di Banyuwangi. Seperti, pendopo, asrama Inggrisan, Kantor Pos, Pantai Boom, hingga Kampung Osing Kemiren.

“Selama trip, mereka didampingi seorang guide dan budayawan yang akan memberikan narasi di setiap lokasi. Sehingga tidak sekedar berkunjung, mereka juga akan tahu cerita sejarahnya,” ujar Komang.

FAN juga dirangkai seminar dan diskusi dengan menghadirkan sejumlah narasumber nasional. Seperti, Andra Matin, Yori Antar, serta tim Aga Khan Award.

Selanjutnya, FAN 2023 akan dipuncaki dengan perayaan kemenangan Bandara Banyuwangi dalam ajang Aga Khan Award. Ceremonial dilaksanakan di Bandara Banyuwangi, 24 Juni 2023.

“Direktur Aga Khan Award direncanakan akan berkeliling untuk melihat terminal bandara. Kemudian, perayaan kita ramaikan dengan penampilan kolosal 300 penari gandrung di pelataran bandara,” tambah Komang.

Artikel Terkait