Banyuwangi Pacu Pengembangan Komoditas Cabai, Gulirkan Program dari Hulu ke Hilir

BanyuwangiNet.com – Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu daerah sentra cabai nasional. Karena itu Banyuwangi pacu pengembangan komoditas cabai. Ini juga menjadi salah satu upaya pengendalian inflasi, mengingat cabai rawit merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi besar terhadap pergerakan harga pasar.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, selain permasalahan stunting, daerah juga harus fokus pada pengendalian inflasi. Maka hal ini juga menjadi fokus kita di Banyuwangi. Kami berupaya agar pasokan berbagai komoditas penyumbang (inflasi) tetap terjaga, salah satunya cabai rawit,” kata Ipuk, Jumat (27/1/2023).
Untuk mendukung hal tersebut, pemkab menggulirkan berbagai kebijakan guna memacu pengembangan komoditas cabai rawit di Banyuwangi. Mulai menggelar sekolah lapang, memberikan bantuan pupuk organik, menyediakan bangsal kemas/ packing house, hingga menyiapkan pasar lelang untuk mendukung pemasaran produknya.
“Programnya dari hulu ke hilir. Kita berikan bantuan pupuk organik untuk menunjang kesuburan lahan sebelum masa tanam, hingga bagaimana penanganan pasca panennya. Dengan berbagai program ini, diharapkan produksi cabai Banyuwangi terus terjaga,” ujar Ipuk.
Sekilas Tentang Mal Pelayanan Publik Banyuwangi, MPP Pertama di Indonesia
Di Banyuwangi terdapat kawasan yang menjadi sentra pembudidaya cabai terdapat di berbagai kecamatan. Salah satunya Kecamatan Wongsorejo dengan luas tanam mencapai 12.710 hektare, atau mencapai 34,9 persen dari total lahan tanam cabai rawit se-Banyuwangi. Produktivitas cabai rawit wilayah ini rata-rata mencapai 8-10 ton/hektare, lebih tinggi dari rata-rata Banyuwangi sebesar 5-7 ton/hektare.
Masyarakat di Wongsorejo, terbiasa menanam cabai rawit secara tumpang sari dengan tanaman jagung. Biasanya cabai ditanam setelah tanaman jagung berusia dua bulan. Tak heran, jagung juga menjadi komoditas unggulan di daerah ini, selain cabai rawit.
Selain Wongsorejo, di Banyuwangi juga terdapat sejumlah sentra cabai rawit lain, di antaranya Kecamatan sempu dengan luas tanam 5.468 hektare, dan Kecamatan Cluring dengan luas tanam 3.945 hektare. Dengan seluruh lahan tanam tersebut, pada tahun 2022 produksi cabai Banyuwangi mencapai 257.418 ton.
Selain cabai rawit, Banyuwangi juga memiliki sejumlah sentra cabai besar. Di antaranya Kecamatan Licin, Kalibaru, dan Tegalsari.
Ditambahkan Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta Pangan) Kabupaten Banyuwangi, M. Khoiri, menjelaskan guna mendukung pengembangan cabai rawit, Disperta Pangan memberikan bantuan pupuk organik dan pengendalian hama penyakit. Kedua program ini dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas komoditas cabai rawit.
Banyuwangi Libatkan Penjual Sayur Keliling Salurkan Makanan ke Balita Stunting
Disperta Pangan juga memberikan bantuan saranan pengolahan dan pemasaran berupa fasilitas pasar lelang dan packing house/bangsal kemas. Bangsal kemas bisa dimanfaatkan petani untuk menyimpan sementara hingga melakukan penanganan pasca panen sebelum cabai siap dipasarkan.
“Se-Banyuwangi ada 10 bangsal kemas yang kita siapkan di wilayah-wilayah sentra cabai. Di antaranya di Wogsorejo, Kalipuro, dan Srono,” ujar Khoiri.
Disperta Pangan juga rutin menggelar sekolah lapang. Kegiatan ini memberikan pembekalan kepada petani tentang tata cara budidaya yang baik (Good Agricultural Practises/GAP), misalnya prosedur pengolahan tanah yang tepat, pemilihan bibit, pemberian pupuk, hingga cara pengendalian hama penyakit.
Tak hanya itu, imbuh Khoiri, di sekolah lapang petani juga diajarkan tentang penanganan pasca panen (Good Handling Practices/GHP).
“Sekolah lapang ini rutin digelar sebelum memasuki masa tanam. Kegiatan ini untuk menambah skill dan pengetahuan petani sejak persiapan masa tanam hingga penanganan pasca panen yang tepat. Sehingga mutu dan daya saing produk tetap terjamin,” tambah Khoiri.