Surut Ekstrem Ganggu Sandar Kapal LCT di Dermaga LCM Ketapang-Gilimanuk

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 15 September 2026, 16:36 WIB
WhatsApp Image 2026-09-07 at 07.51.42
Surut ekstrem di Selat Bali berdampak pada terganggunya proses sandar Kapal LCT.

BanyuwangiNet.com – Proses sandar kapal penyeberangan di dermaga Landing Craft Marine (LCM) Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali, mengalami kendala dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut dipicu penurunan permukaan air laut yang cukup ekstrem saat fase surut. Dampaknya, kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) yang menggunakan dermaga LCM membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan proses sandar.

Fenomena ini juga berpotensi mengganggu kelancaran layanan penyeberangan karena kapal tidak dapat beroperasi secara optimal ketika kondisi air laut tidak mendukung.

Prakirawan BMKG di Pelabuhan Ketapang, Dudi Nugraha, mengatakan, perubahan permukaan air laut tersebut terjadi pada fase pasang tertinggi (top pasang) dan surut terendah (top surut).

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi fenomena bulan baru yang terjadi pada 11 September 2026. Peningkatan pasang dan surut mulai berlangsung sekitar tiga hari sebelum fenomena bulan baru tersebut.

“Di tanggal 11 September ini kan ada ini bulan baru. Dan itu juga bisa meningkatkan untuk top pasangnya dan top surutnya,” jelasnya, Selasa (15/9/2026).

Dalam kondisi normal, permukaan air laut saat top pasang dapat mencapai sekitar 0,9 meter. Sementara ketika top surut, permukaan air laut dapat turun hingga minus 0,9 meter.

Namun, berdasarkan analisis BMKG, kondisi pasang dan surut dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan.

“Untuk analisis 3 hari sebelumnya itu, pasangnya itu bisa mencapai 1,3 meter. Sedangkan untuk surutnya bisa mencapai minus 1,2 meter,” terangnya.

Dudi menjelaskan, permukaan air laut biasanya kembali ke kondisi normal sekitar satu hingga dua jam setelah mencapai titik surut terendah. Waktu terjadinya top surut juga tidak selalu sama setiap hari. Namun, fenomena tersebut umumnya terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00–07.00 WIB dan sore hari.

Berdasarkan analisis BMKG hingga Senin (14/9/2026), kondisi top surut dan top pasang masih berada pada kisaran minus 1,2 meter.

“Kemungkinan besar untuk hari ini, dari prakiraan kita itu sudah mulai menurun untuk kenaikannya,” tegasnya.

Koordinator Satuan Pelabuhan (Korsatpel) BPTD Ketapang, Banyuwangi, Tarto Saefullah, mengatakan fenomena surut ekstrem tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran, terutama kapal yang menggunakan dermaga LCM.

Saat permukaan air laut turun, arus laut juga cenderung semakin kuat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kapal mengalami kandas ketika hendak bersandar.

“Kapal akhirnya tidak bisa optimal, akan berdampak pada antrean,” jelasnya, Selasa (15/9/2026).

Antrean Ketapang Terurai, ASDP Operasikan 26 Kapal untuk Perkuat Layanan

Menurut Tarto, fase surut ekstrem biasanya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam. Dalam rentang waktu tersebut, aktivitas sandar kapal dapat terganggu sehingga jumlah perjalanan atau trip penyeberangan berpotensi berkurang.

“Pasti Pak, akan berkurang, otomatis terganggu karena kan kapal tidak bisa sandar,” tegasnya.

ASDP Ungkap Penyebab Antrean Ketapang-Gilimanuk dan Strategi Mengatasinya

Tarto menambahkan, fenomena surut ekstrem tidak hanya terjadi di Pelabuhan Ketapang. Kondisi serupa juga dapat berlangsung di Pelabuhan Gilimanuk.

“Dua sisi, kadang di Gilimanuk, kadang di Ketapang, waktunya juga gak pasti, cuma sering terjadi,” ujarnya.

Artikel Terkait