Macet Ketapang Picu Tarif Logistik ke Bali Naik
BanyuwangiNet.com – Kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mulai berdampak pada biaya angkutan logistik menuju Bali. Sopir kendaraan logistik meminta tambahan tarif karena waktu tempuh yang semakin panjang dinilai meningkatkan biaya operasional dan risiko kerugian.
Ketua Persatuan Sopir Logistik Indonesia (PSLI), Slamet Barokah, mengatakan kenaikan tarif terjadi pada sejumlah rute pengangkutan logistik menuju Bali.
Untuk rute Jakarta-Bali, tarif yang sebelumnya sekitar Rp13 juta per sekali angkut kini menjadi Rp14 juta. Sementara tarif angkutan dari Surabaya menuju Bali naik dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp5 juta.
“Kalau tidak harga itu, sopir malas dan menolak jalan. Karena risiko macet yang dihadapi. Makanya sopir menarik tarif lebih,” jelas Slamet, Kamis (17/9/2026).
Menurut Slamet, yang juga pembina Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), sebagian besar sopir logistik menerima pembayaran dengan sistem borongan. Besaran biaya tersebut mencakup biaya akomodasi sekaligus pendapatan sopir selama proses pengiriman barang hingga sampai tujuan. Ketika perjalanan terhambat kemacetan, biaya yang harus dikeluarkan sopir ikut meningkat.
“Setidaknya Rp200 ribu-Rp300 ribu dalam sekali macet. Itu yang membuat sopir merasa dirugikan karena macet,” tegasnya.
Kemacetan juga membuat waktu pengiriman menjadi lebih panjang. Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi sopir yang membawa barang dengan tingkat risiko kerusakan tinggi.
Semakin lama perjalanan, semakin besar pula potensi barang mengalami kerusakan, terutama untuk komoditas yang membutuhkan penanganan dan waktu pengiriman tertentu.
Slamet meminta pemerintah segera mencari solusi atas kemacetan yang terjadi di jalur Ketapang-Gilimanuk. Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kelancaran kendaraan menyeberang, tetapi juga berdampak terhadap distribusi logistik menuju Bali.
Antrean Ketapang Terurai, ASDP Operasikan 26 Kapal untuk Perkuat Layanan
Ia menilai pemerintah pusat perlu ikut turun tangan karena jalur tersebut menjadi salah satu akses penting dalam distribusi barang menuju Pulau Bali.
“Ini bukan masalah kekurangan kapal. Tapi kurangnya infrastruktur penunjang di pelabuhan, salah satunya adalah dermaga,” katanya.
ASDP Ungkap Penyebab Antrean Ketapang-Gilimanuk dan Strategi Mengatasinya
Menurut Slamet, penambahan dermaga menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan seiring pertumbuhan jumlah kendaraan yang menggunakan lintasan Ketapang-Gilimanuk.
“Tiap tahun jumlah kendaraan naik, dermaganya masih sama padahal kapalnya banyak. Ini perlu ada penambahan dermaga supaya penyeberangan kembali lancar,” ujarnya.