Festival Memengan Tradisional Banyuwangi Ajak Ribuan Siswa Lestarikan Permainan Tradisional
BanyuwangiNet.com – Taman Blambangan Banyuwangi dipenuhi ribuan siswa TK dan SD yang antusias memainkan beragam permainan tradisional dalam Festival Memengan Tradisional. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional tersebut digelar untuk mengenalkan kembali permainan warisan budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada anak-anak.
Berbagai permainan tradisional yang pernah populer di kalangan generasi sebelumnya kembali dimainkan. Mulai dari gobak sodor, engklek, lompat tali, egrang, congklak, bekel, kiling, hula hoop, terompah, bedil-bedilan, mobil-mobilan dari kulit buah pomelo, hingga semprongan atau permainan meniup karet gelang.
Salah satu peserta, Amelia, siswi kelas VI SDN 1 Segobang, Kecamatan Licin, tampak menikmati permainan semprongan bersama tiga temannya. Sebelum bermain, mereka melakukan hompimpa untuk menentukan giliran pertama.
“Tidak pernah tahu mainan ini. Asyik sih, orang tua saya juga kadang ikut main kalau saya mencoba di rumah. Ibu dulu pernah main ini,” ujar Amelia dengan gembira setelah memenangkan permainan.
Festival tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal sekaligus merasakan pengalaman bermain permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui di kehidupan sehari-hari.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Festival Memengan Tradisional merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam melestarikan pendidikan karakter yang telah diwariskan oleh para leluhur melalui permainan tradisional.
Menurut Ipuk, permainan-permainan tersebut mengandung banyak nilai positif, mulai dari kecerdasan sosial, kerja sama tim, kemampuan memecahkan masalah, kedisiplinan, hingga sikap sportif saat menerima kekalahan.
“Festival ini merupakan bagian dari upaya Pemkab untuk melestarikan kurikulum pendidikan karakter yang dibangun leluhur yang mengajarkan tentang sosial intelligence, team work, problem solving, disiplin, serta kemampuan berbesar hati saat mengalami kekalahan. Semua nilai positif ini bisa didapatkan lewat permainan tradisional yang mereka mainkan hari ini,” ujar Ipuk.
Selain melestarikan budaya, Pemkab Banyuwangi juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif aktivitas yang menyeimbangkan penggunaan teknologi di kalangan anak-anak.
Ipuk menilai teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan generasi saat ini. Namun, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk berinteraksi secara langsung melalui aktivitas yang membangun karakter dan mendorong mereka lebih aktif bergerak.
“Teknologi tidak bisa kita hindarkan dari anak-anak. Namun kita bisa mencari penyeimbang agar teknologi tidak sampai merusak karakter mereka. Salah satunya, dengan diberikan ruang berinteraksi semacam ini,” katanya.
Ribuan Warga Bersihkan Pesisir KNMP Banyuwangi, Dukung Gerakan Indonesia ASRI
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjelaskan Festival Memengan Tradisional diikuti hampir seribu siswa TK dan SD yang berasal dari 25 kecamatan di Banyuwangi.
“Kegiatan ini untuk mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak dan melestarikannya,” kata Alfian.
Selain Festival Memengan Tradisional, rangkaian peringatan Hari Anak Nasional di Banyuwangi juga diisi berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.
Seleksi Gandrung Sewu 2026 Dimulai, Penari Berebut Tampil di Festival Bertema Kembang Dermo
Salah satunya adalah Pameran Karya Pelajar yang menampilkan berbagai inovasi siswa di bidang teknologi. Di antaranya automatic fish feeder hasil karya siswa SMPN 1 Banyuwangi yang mampu memberi pakan ikan secara otomatis sesuai jadwal dan takaran yang telah diatur.
Peringatan Hari Anak Nasional juga dimeriahkan dengan lomba story telling serta Padang Ulanan, yang menjadi wadah bagi para pelajar untuk menampilkan kreativitas dan potensi di bidang seni serta budaya.