Es Gabus Viral Dikira Spons, Pedagang Banyuwangi Kebanjiran Pembeli
BanyuwangiNet.com – Jajanan jadul es gabus kembali naik daun setelah viral karena dikira terbuat dari spons. Fenomena ini membuat banyak orang penasaran dan memburu es gabus, termasuk di Banyuwangi, Jawa Timur.
Salah satu pedagang yang merasakan dampak langsung adalah Iwan Kurniawan (38). Ia mengaku penjualan es gabusnya meningkat drastis sejak video es gabus yang disebut mirip spons ramai dibicarakan di media sosial.
“Biasanya sehari hanya bisa jual 20 sampai 30 potong. Sejak viral itu bisa sampai 120 potong per hari,” kata Iwan.
Iwan menjajakan es gabus dengan cara berkeliling di beberapa titik strategis di pusat kota Banyuwangi. Pada pagi hari, pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, ia mangkal di sekitar GOR Tawangalun.
Jumat Naik Transportasi Umum, Ipuk ke Kantor Pakai Becak Listrik
Setelah itu, hingga siang hari, ia berpindah ke depan SD Kepatihan. Sore harinya, Iwan melanjutkan berjualan di depan SMPN 3 Banyuwangi.
“Alhamdulillah, sejak es gabus viral, dagangan selalu habis,” ujarnya.
Es gabus yang dijual Iwan dibanderol dengan harga terjangkau, yakni Rp 2.000 per potong. Ia juga memberi harga khusus bagi pembeli yang membeli dalam jumlah lebih banyak.
“Kalau beli tiga potong, cukup Rp 5.000,” katanya.
Mabadiul Ihsan Kenalkan Pembelajaran Holistik, Siswa SD/MI Belajar Koding dan AI
Iwan menamai produknya Es Gabus Rainbow karena tampilannya berwarna-warni menyerupai pelangi. Tampilan inilah yang menjadi salah satu daya tarik pembeli, selain faktor viral di media sosial.
Iwan mengaku tidak memiliki latar belakang khusus dalam membuat jajanan. Ia belajar membuat es gabus secara otodidak melalui tutorial di YouTube.
Bahan-bahan yang digunakan pun relatif sederhana dan mudah ditemukan di toko bahan kue, seperti tepung hunkee, santan, dan pewarna makanan.
“Bahannya gampang dicari dan prosesnya juga tidak terlalu rumit,” jelasnya.
Fenomena viral es gabus ini membuktikan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama ketika didukung tren media sosial.