Endog-Endogan Desa Kembiritan Banyuwangi, Tradisi Maulid yang Dirawat Selama 28 Tahun

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Selasa, 25 Agustus 2026, 15:17 WIB
1001028445
Tradisi Endog-endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

BanyuwangiNet.com – Tradisi Endog-Endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, kembali digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (25/8/2026). Tradisi ini telah dijaga masyarakat selama 28 tahun.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan dan budaya. Endog-Endogan juga menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan, gotong royong, sekaligus mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

Konsistensi masyarakat Kembiritan dalam merawat tradisi tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Dalam tiga tahun terakhir, Endog-Endogan Kembiritan juga telah masuk dalam kalender agenda wisata tahunan Banyuwangi Attractions.

“Pemkab Banyuwangi mengapresiasi Pemdes dan seluruh masyarakat Kembiritan yang gotong royong terus menjaga tradisi ini hingga 28 tahun. Kita berharap Endog-Endogan terus lestari dan tidak luntur oleh perkembangan zaman, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong,” ujar Ipuk saat menghadiri perayaan tersebut.

Menurut Ipuk, Endog-Endogan tidak sekadar menghadirkan kemeriahan melalui pawai dan kreativitas masyarakat. Tradisi tersebut juga mengandung nilai sosial yang relevan dengan semangat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di tengah perkembangan teknologi yang membuat interaksi masyarakat semakin banyak berlangsung secara individual, tradisi berbasis komunitas dinilai penting untuk menjaga hubungan sosial antarwarga.

“Di tengah perkembangan teknologi dan kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis, tradisi seperti Endog-Endogan dan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim menunjukkan bahwa semangat guyub rukun dan gotong royong warga masih kuat. Ini yang harus terus kita rawat,” kata Ipuk.

Ia menambahkan, pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk menjaga lingkungan sosial sekaligus mendukung berbagai program pembangunan.

“Tangan pemerintah tentu terbatas. Karena itu, partisipasi aktif masyarakat seperti ini sangat penting. Ketika masyarakat guyub, saling membantu dan peduli, tentu banyak persoalan yang bisa diselesaikan bersama,” imbuhnya.

Kepala Desa Kembiritan Sukamto mengatakan, Endog-Endogan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat selama hampir tiga dekade.

Menurutnya, tradisi tersebut diwariskan para leluhur sejak 28 tahun lalu. Pada awalnya, pawai kembang telur atau endog-endogan dilaksanakan secara sederhana dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung warga RT/RW.

“Tradisi ini diwariskan oleh para leluhur kami sejak 28 tahun lalu. Awalnya, perarakan kembang telur atau endog-endogan hanya dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan becak roda tiga yang diusung warga RT/RW,” jelas Sukamto.

Seiring berjalannya waktu, pelaksanaan Endog-Endogan berkembang menjadi perayaan budaya yang melibatkan semakin banyak unsur masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad 2021 di Banyuwangi, Gus Muwafiq Ungkap Makna Pentingnya

Tahun ini, sekitar 1.500 peserta dari 19 kelompok kreasi budaya ambil bagian. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai lembaga pendidikan, yayasan, hingga kelompok masyarakat.

“Sekarang perkembangannya luar biasa. Hampir seluruh lembaga pendidikan, yayasan, dan kelompok masyarakat ikut terlibat di tradisi besar ini. Hal ini menunjukkan bahwa Endog-Endogan sudah menjadi milik bersama masyarakat Kembiritan,” ujarnya.

Tradisi Endhog-Endhogan Banyuwangi, Ribuan Telur Hias Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Pawai Endog-Endogan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 09.30 WIB.

Tradisi tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya Banyuwangi yang terus dirawat lintas generasi. Selain mempertahankan warisan leluhur, Endog-Endogan juga menjadi ruang perjumpaan warga untuk memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan semangat gotong royong.

Artikel Terkait