BIG Downhill Banyuwangi Diikuti 216 Rider, Berstatus UCI Class 1

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 20 September 2026, 20:13 WIB
WhatsApp Image 2026-09-20 at 19.55.03
Salah satu peserta BIG Downhill memasuki garis finish setelah menempuh trek sejauh 2,3 km.

BanyuwangiNet.com – Banyuwangi Ijen Geopark (BIG) Downhill kembali digelar di Gantasan Bike Park, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Kompetisi sepeda downhill yang berlangsung 19-20 September 2026 ini diikuti 216 rider dari berbagai daerah di Indonesia.

Ajang tersebut masuk dalam agenda resmi Union Cycliste Internationale (UCI), induk organisasi olahraga sepeda dunia. Dalam tiga tahun terakhir, BIG Downhill telah berstatus UCI Class 1 (C1).

Para peserta datang dari sejumlah daerah, mulai Jawa Timur, Yogyakarta, Cilacap, Bekasi, Jakarta, Bandung, Bali, Jepara, Solo, Mataram, Salatiga hingga Poso.

Kompetisi diawali dengan seeding run pada hari pertama untuk menentukan posisi start pada babak final. Persaingan kemudian berlanjut pada putaran final yang digelar Minggu (20/9/2026).

Gantasan Bike Park menjadi tantangan tersendiri bagi para rider. Trek sepanjang 2,3 kilometer tersebut memiliki berbagai obstacle yang menuntut kemampuan teknik, fisik, serta penguasaan sepeda.

Sejumlah rintangan tersebar di sepanjang lintasan, antara lain rock garden, tanjakan, turunan curam, tikungan tajam, bebatuan, drop pohon, wallride kayu, big drop, hingga super bowl.

Pada kategori Men Elite, Agung Prio Apriliano dari Astrindo Racing Team menjadi rider tercepat. Posisi kedua ditempati Pahraz Salman Alparisi dari Underdog PSW, sedangkan posisi ketiga diraih Yosi Saputra dari Yeti Tribe Indonesia Racing Team.

Bagi Agung, kemenangan tersebut menjadi hasil dari upayanya menebus hasil kurang maksimal pada musim sebelumnya. Ia mengaku tidak pernah absen mengikuti BIG Downhill selama lima tahun terakhir.

“Saya meraih podium kedua pada 2023 dan podium ketiga pada 2024. Tahun lalu saya sempat terjatuh, jadi tahun ini saya bertekad menebus kekalahan tersebut,” katanya.

Menurut Agung, karakter Gantasan Bike Park juga terus berkembang. Rintangan yang tersedia dari tahun ke tahun semakin besar dan bervariasi, mulai rock garden, akar pohon, hingga sektor pedaling.

Pada babak final, ia memilih menambah tekanan angin pada ban. Strategi itu dilakukan setelah pada hari pertama mengalami pecah ban depan saat melintasi rock garden.

“Di sini tidak hanya mengandalkan skill, tetapi juga fisik yang prima serta setelan sepeda yang mumpuni,” ungkapnya.

Sementara itu, kategori Women Elite dimenangi Nilna Murni Ningtyas dari Spartan Racing Team. Podium pertama tersebut menjadi pencapaian penting bagi Nilna karena pada perlombaan sebelumnya ia harus puas menempati posisi kedua.

Posisi kedua Women Elite diraih Milatul Khaqimah dari Nukeproof Axxes Racing Team. Sementara posisi ketiga ditempati Ayu Triya Andriana dari Alaska Squad.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menghadiri sesi awarding BIG Downhill 2026. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi yang kembali mempertemukan rider dari berbagai daerah.

Menurut Ipuk, event olahraga seperti BIG Downhill menjadi bagian dari strategi Banyuwangi mengembangkan sport tourism. Selain menawarkan wisata alam, penyelenggaraan event olahraga dapat mendatangkan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Banyuwangi selama ini juga menggelar berbagai event sepeda, mulai push bike untuk anak PAUD, BMX, BIG Downhill, hingga agenda Gravel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

“Kehadiran para atlet dan wisatawan turut menggerakkan ekonomi lokal, khususnya bagi para pelaku UMKM,” jelasnya.

Ketua Panitia Penyelenggara BIG Downhill 2026, Munif, mengatakan Gantasan Bike Park memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah lintasan lainnya.

Menurutnya, terdapat dua karakter utama pada lintasan Gantasan Bike Park. Bagian awal trek cenderung selalu basah karena kondisi kontur tanah, sedangkan bagian tengah hingga akhir lebih kering.

Laga Terakhir Kejurnas Balap Sepeda 2025 Banyuwangi, Para Pembalap Adu Cepat di Jalur Neraka Ijen

Kondisi tersebut membuat pembalap harus cermat menentukan setelan dan jenis ban yang digunakan.

“Atlet itu bingung, biasanya kalau hujan atau basah dia pakai ban basah tapi di trek bawah dia akan kalah, pakai ban kering di atas akan kalah, ini tantangan tersendiri,” katanya.

Munif mengatakan BIG Downhill tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-7. Status UCI Class 1 yang telah disandang selama tiga tahun terakhir juga menunjukkan perkembangan kompetisi tersebut dalam kalender olahraga sepeda.

Soekarno Run Banyuwangi 2027 Ditargetkan Berskala Internasional, Hadiah Naik Jadi Rp5 Miliar

Menurut dia, dampak ekonomi penyelenggaraan juga terasa di sekitar lokasi. Sejumlah homestay di kawasan Gantasan hingga wilayah Glagah terisi peserta dan pendukung lomba.

“Dampak ekonominya sangat terasa. Homestay di kawasan sekitar perhelatan hingga ke wilayah Glagah terisi penuh. Kebutuhan konsumsi dan oleh-oleh peserta juga memutar roda ekonomi warga lokal. Semoga ke depan acaranya makin besar dan meriah,” ujarnya.

Artikel Terkait