500 Warga Papring Banyuwangi Lanjutkan Pendidikan, PKBM NUN Resmi Dibuka

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 10 Oktober 2026, 16:45 WIB
1001112637
Wamen PPPA Veronica Tan memberikan penghargaan kepada warga yang telah mengikuti pendidikan di PKBM.

BanyuwangiNet.com – Semangat warga di kawasan pinggiran hutan Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, untuk melanjutkan pendidikan patut diapresiasi. Sedikitnya 500 warga yang pernah putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan formal kini mendapat kesempatan belajar melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) NUN.

PKBM NUN diresmikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pringgojati, Papring, Jumat (9/10/2026). Peresmian tersebut menjadi bagian dari perayaan 11 tahun Kampoeng Batara (Kampung Baca Taman Rimba).

Lembaga pendidikan nonformal ini merupakan hasil kerja sama Kampoeng Batara dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kehadirannya menjadi kelanjutan dari program pemberantasan buta aksara melalui Sekolah Aksara Kampoeng Batara yang telah merangkul sekitar 500 warga.

Melalui PKBM NUN, warga yang telah mengikuti program keaksaraan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kesetaraan, mulai Paket A, Paket B, hingga Paket C. Dengan demikian, mereka dapat terus mengembangkan kemampuan membaca, menulis, serta pengetahuan lainnya.

Veronica Tan mengapresiasi konsistensi Kampoeng Batara dalam mendampingi masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan, agar memperoleh akses pendidikan.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi yang dilakukan di kampung ini. Selain mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar, tapi juga mendampingi ibu-ibu yang semula tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis melalui program Sekolah Aksara. Semoga ini bisa menjadi percontohan,” ungkap Veronica.

Founder Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, menjelaskan bahwa nama NUN diambil dari huruf Nun dalam bahasa Arab yang memiliki filosofi sebagai wadah ilmu pengetahuan.

Nun dimaknai sebagai tempat tinta, wadah ilmu, sekaligus simbol awal penciptaan. Bentuknya yang menyerupai mangkuk dengan satu titik di dalamnya menggambarkan tempat untuk menampung sumber pengetahuan.

“Filosofi ini juga berkaitan dengan pena sebagai simbol literasi, ilmu pengetahuan, dan pencatatan perjalanan kehidupan manusia,” terangnya.

Widie mengatakan, PKBM NUN dibentuk agar masyarakat yang telah mengikuti program keaksaraan tidak berhenti belajar setelah mampu membaca dan menulis. Mereka diharapkan dapat melanjutkan pendidikan melalui jalur kesetaraan dan memperoleh kesempatan belajar secara berkelanjutan.

Kampung Seling Banyuwangi Dapat Bantuan Turbin PLTMH hingga Fasilitas Pendidikan

Menurutnya, sasaran utama PKBM NUN adalah orang tua, khususnya perempuan atau ibu-ibu. Sekitar 80 persen peserta diperkirakan merupakan perempuan, sedangkan sisanya terdiri atas laki-laki dan anak-anak yang rentan mengalami putus sekolah.

“Program ini merupakan buah kerja keras dan gotong royong masyarakat,” terangnya.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono turut mengapresiasi semangat warga Papring dalam mengakses pendidikan. Menurutnya, inisiatif masyarakat untuk terus belajar menjadi hal penting dalam memperluas kesempatan memperoleh pengetahuan, termasuk bagi kelompok yang rentan tertinggal.

Pemkab Banyuwangi Gandeng BSI Perkuat Pengentasan Kemiskinan Lewat Pendidikan dan Kesehatan

Mujiono juga mengaitkan upaya tersebut dengan program Teman Lansia yang diluncurkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Program itu bertujuan memastikan warga lanjut usia yang rentan tetap mendapatkan perhatian dan layanan.

“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi semangat warga kampung ini,” ujarnya.

Artikel Terkait