Urai Kemacetan di Pelabuhan Ketapang, ASDP Lakukan Sejumlah Penyesuaian Operasional
BanyuwangiNet.com – Kepadatan kendaraan di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk menjadi perhatian PT ASDP Indonesia Ferry. Antrean yang terjadi berdampak pada waktu tunggu masyarakat dan pelaku logistik yang menggunakan layanan penyeberangan Jawa–Bali.
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP melakukan sejumlah penyesuaian operasional sekaligus menjaga agar pelayanan tetap berjalan aman dan terkendali.
Direktur Teknik ASDP, Nana Sutisna, mengatakan, pihaknya memahami kondisi yang dihadapi pengguna jasa, terutama pengemudi kendaraan logistik yang harus menghadapi waktu tunggu lebih panjang.
“Karena itu, kami terus berupaya agar kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dan proses penguraian antrean berjalan lebih cepat, dengan tetap mengutamakan keselamatan,” jelas Nana, Rabu (30/9/2026).
Data ASDP periode 31 Agustus hingga 29 September 2026 mencatat sebanyak 341.826 kendaraan telah dilayani di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Jumlah tersebut terdiri atas 115.469 sepeda motor, 84.489 mobil, 14.567 bus, dan 127.301 truk. Dalam periode yang sama, sebanyak 823 kapal beroperasi dengan total 9.984 perjalanan.
Menurut ASDP, kepadatan kendaraan dipengaruhi sejumlah kondisi yang secara bersamaan berdampak pada kapasitas efektif pelayanan. Dinamika operasional dan fasilitas penyeberangan turut memengaruhi fleksibilitas pengaturan layanan.
Selain itu, karakteristik dan volume kendaraan yang dilayani membutuhkan penyesuaian dalam pengaturan kapasitas serta distribusi muatan di pelabuhan.
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP telah melakukan sejumlah penyesuaian. Di antaranya mendatangkan kapal berkapasitas besar dan mengoptimalkan Dermaga II Ketapang untuk kapal perbantuan.
ASDP juga memperketat pola operasi serta berkoordinasi dengan BPTD, KSOP, Gapasdap, INFA, dan kepolisian untuk mendukung kelancaran arus kendaraan.
Dalam kondisi kepadatan, waktu operasi MB IV dapat diperketat dari sebelumnya 41 menit menjadi 36 menit. ASDP juga mengoptimalkan pola Trip Berbasis Balik (TBB), termasuk mendorong kapal berukuran di atas 2.000 GT untuk menerapkan pola tersebut. Pola ini ditujukan agar kapasitas angkut kapal dapat dimanfaatkan secara lebih efektif untuk membantu mengurai antrean.
Pengaturan juga dilakukan melalui distribusi kendaraan berdasarkan fungsi masing-masing dermaga. Dermaga LCM dan MB IV diarahkan untuk mengakomodasi kendaraan logistik berukuran besar.
Sementara itu, distribusi kendaraan di dalam kawasan pelabuhan dilakukan tanpa pemilihan muatan agar antrean dapat terurai secara lebih merata.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengatakan, setiap langkah operasional terus dievaluasi berdasarkan kondisi di lapangan.
“Karena itu, setiap kapasitas yang memungkinkan untuk dioptimalkan akan kami manfaatkan, termasuk melalui penyesuaian pola operasi dan distribusi kendaraan. Di saat yang sama, kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak agar langkah yang diambil tetap aman dan benar-benar membantu mempercepat perjalanan pengguna jasa,” jelasnya.
ASDP Operasikan 24 Kapal di Ketapang-Gilimanuk untuk Urai Antrean Kendaraan
Selain langkah operasional jangka pendek, ASDP juga menyiapkan penguatan kapasitas infrastruktur di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Peningkatan kapasitas Dermaga II Gilimanuk dari 2.000 GT menjadi 5.000 GT ditargetkan dapat beroperasi secara fungsional pada Desember 2026.
Di Pelabuhan Ketapang, Dermaga V yang saat ini berupa dermaga ponton juga akan ditingkatkan menjadi dermaga MB dengan kapasitas hingga 5.000 GT. Fasilitas tersebut ditargetkan dapat dioperasikan pada Maret 2027.
ASDP Operasikan 25 Kapal untuk Percepat Pemulihan Layanan
ASDP juga menyiapkan pengembangan area siap muat serta akses penghubung Bulusan–Ketapang. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan logistik di koridor Ketapang–Gilimanuk.
“Penanganan ini bukan hanya tentang bagaimana antrean hari ini dapat berkurang, tetapi juga bagaimana ke depan pengguna jasa bisa mendapatkan layanan yang lebih lancar dan waktu tunggu yang lebih baik. Karena itu, kami menyiapkan penguatan kapasitas secara bertahap, baik dari sisi operasi maupun infrastruktur,” ujarnya.