Koral Budidaya Banyuwangi Tembus 20 Negara, Terbaru Ekspor ke Amerika Serikat

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Jumat, 28 Agustus 2026, 20:49 WIB
1001033522
Mendag Budi Santoso didampingi Wabup Banyuwangi Mujiono melihat proses budi daya koral di PT Sri Kandi Aquarium.

BanyuwangiNet.com – Koral hidup hasil budidaya PT. Sri Kandi Aquarium di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus memperluas pasar hingga mancanegara. Produk yang dikembangkan pelaku usaha lokal tersebut kini telah diekspor ke sekitar 20 negara di Asia, Amerika, dan Eropa.

PT Sri Kandi Aquarium Ketapang, Banyuwangi, melakukan ekspor koral hidup senilai 2.500 dolar AS ke Amerika Serikat, Jumat (28/8/2026). Pelepasan ekspor tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Ekspor tersebut menjadi bagian dari aktivitas perdagangan koral hasil budidaya yang telah dijalankan perusahaan sejak 2011. Owner PT Srikandi Aquarium I Ketut Sukandi mengatakan, selama sekitar 15 tahun menjalankan usaha, koral hasil budidayanya telah menjangkau pasar di sekitar 20 negara yang tersebar di tiga benua.

“Kami mulai ekspor sejak 2011. Sampai sekarang sudah sekitar 20 negara yang menjadi tujuan ekspor,” ujar Sukandi.

Sukandi memastikan koral yang dipasarkan ke luar negeri seluruhnya merupakan hasil budidaya. Produk tersebut tidak diperoleh melalui pengambilan langsung dari habitat alam. Proses budidaya dilakukan di fasilitas perusahaan yang berada di Jalan Situbondo-Banyuwangi, Desa Bulusan, Kecamatan Kalipuro.

Saat ini terdapat sekitar 29 jenis koral yang dikembangkan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 80 ribu koloni atau biji koral setiap tahun.

“Produksi kami sekitar 80 ribu biji koral dalam satu tahun,” katanya.

Seluruh hasil produksi tersebut diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Perusahaan belum melayani penjualan koral hidup untuk pasar domestik karena permintaan dari pembeli luar negeri masih cukup tinggi.

Pengiriman dilakukan secara berkala, sekitar setiap delapan hingga 10 hari. Dalam satu bulan, nilai ekspor rata-rata mencapai sekitar 25 ribu dolar AS.

“Pasarnya cukup baik dan harga koral relatif stabil, tidak terlalu fluktuatif,” ujar Sukandi.

Di balik peluang pasar ekspor yang cukup besar, budidaya koral juga menghadapi tantangan. Salah satunya kondisi gelombang laut yang dapat memengaruhi fasilitas budidaya.

Sukandi mengatakan gelombang tinggi dapat membuat meja-meja budidaya di laut bergoyang sehingga membutuhkan penguatan agar tidak rusak atau terbalik.

“Seperti bulan Agustus ini, gelombang cukup besar. Meja-meja budidaya di laut bisa bergoyang. Karena itu harus diperkuat agar tidak terbalik,” katanya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat Banyuwangi yang tertarik mengembangkan usaha budidaya koral. Saat ini, jumlah pelaku usaha budidaya koral di Banyuwangi masih sekitar 10 pembudidaya.

“Kalau di Indonesia, sentra pembudidayaannya banyak di Jakarta dan Bali. Totalnya hampir 100 pengusaha,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, pemerintah terus mendorong produk UMKM Indonesia agar mampu masuk dan berkembang di pasar internasional.

3.750 Bibit Pohon Cemara Ditanam dan 50 Ribu Benih Ikan Dilepas di Sungai Badeng Banyuwangi

Salah satu dukungan diberikan melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara. Jaringan tersebut bertugas membantu mempromosikan produk Indonesia sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli.

“Kementerian Perdagangan mempunyai Perwakilan Perdagangan, Atase Perdagangan, dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) di 33 negara. Tugas mereka mencarikan buyer atau mempromosikan produk-produk Indonesia. Salah satunya produk UMKM yang ada di Banyuwangi,” kata Budi.

Mendag Lepas Ekspor Koral Banyuwangi ke AS, Pemerintah Siap Buka Pasar UMKM Lebih Luas

Ekspor koral budidaya dari Banyuwangi menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memiliki daya saing di pasar global.

Budidaya koral juga memperlihatkan peluang pengembangan sektor kelautan Banyuwangi yang tidak hanya bertumpu pada perikanan tangkap. Melalui budidaya, potensi sumber daya kelautan dapat menghasilkan produk bernilai tambah dengan orientasi pasar internasional.

Artikel Terkait