Rumah Tahfidz di Banyuwangi Ini Gratis, Layani Santri Lansia dan Anak
BanyuwangiNet.com – Sebuah Rumah Tahfidz di Dusun Krajan I, Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, menghadirkan konsep pembelajaran Al-Qur’an yang berbeda. Tidak hanya melayani anak-anak, Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali juga membuka kelas khusus bagi perempuan lanjut usia (lansia), dengan seluruh layanan diberikan secara gratis.
Keberadaan rumah tahfidz ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mendalami Al-Qur’an tanpa dibatasi usia. Hingga kini, tercatat 96 santri lansia dan 154 santri anak aktif mengikuti kegiatan belajar.
Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali berdiri di atas lahan sekitar 600 meter persegi dan didirikan oleh Keluarga Bani Imam Ghozali pada 11 September 2022.
Ketua Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, H. Lukman Hakim, menjelaskan, rumah tahfidz tersebut lahir dari keinginan almarhumah Hj. Sayyidah yang ingin menyediakan tempat belajar mengaji bagi perempuan berusia di atas 50 tahun.
Menurutnya, saat itu belum banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an yang secara khusus melayani kelompok lansia.
“Keinginan ini lahir karena memang belum pernah ada tempat belajar mengaji untuk orang yang berumur di atas 50 tahun, rata-rata TPQ untuk anak-anak,” jelas Lukman Hakim, Kamis (30/7/2026).
Pada awal berdiri, hanya sekitar lima orang yang mengikuti kegiatan mengaji. Mereka merupakan teman dan tetangga dekat Hj. Sayyidah. Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai sekitar 25 santri lansia sebelum Hj. Sayyidah wafat setahun kemudian. Setelah itu, pengelolaan rumah tahfidz diteruskan oleh sembilan anggota keluarga.
“Saat almarhumah meninggal dunia, sudah sekitar 25 santri lansia, anak-anak saat itu masih sedikit karena memang fokusnya lansia,” ujar Lukman.
Setelah lebih dari empat tahun berjalan, Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali berkembang menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an bagi berbagai kalangan. Saat ini terdapat 96 santri lansia, seluruhnya perempuan berusia sekitar 50 hingga lebih dari 70 tahun. Mereka tidak hanya berasal dari Desa Tegalsari, tetapi juga dari desa dan kecamatan sekitar.
“Paling muda usianya 50-an, paling tua 70 lebih. Seluruhnya perempuan, karena memang fokusnya ke lansia perempuan,” katanya.
Sementara itu, jumlah santri anak telah mencapai 154 orang.
Anak-anak mengikuti kegiatan belajar setiap sore dan malam hari, sedangkan kelas lansia digelar setiap hari Sabtu pukul 08.00 hingga 12.30 WIB. Proses pembelajaran didukung oleh 13 tenaga pengajar, terdiri atas enam ustazah, satu ustaz, dan enam asisten ustazah.
Lukman menegaskan, seluruh kebutuhan operasional rumah tahfidz ditanggung oleh keluarga besar almarhumah Hj. Sayyidah. Pembiayaan tersebut meliputi honor pengajar, operasional harian, hingga konsumsi bagi para santri sehingga peserta tidak dipungut biaya apa pun.
“Jadi santri yang mengaji di sini semua gratis,” tegasnya.
Pengelola sekaligus ustazah Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali, Nuryatul Mardliyah, mengatakan, kegiatan awalnya hanya berfokus pada pembelajaran membaca Al-Qur’an. Namun, seiring meningkatnya kemampuan para santri, banyak di antara mereka yang mulai menghafalkan Al-Qur’an.
Saat ini, sejumlah santri lansia telah menghafal beberapa juz Al-Qur’an. Bahkan, salah seorang santri anak telah mencapai hafalan 25 juz.
Untuk memudahkan proses belajar, santri lansia dibagi dalam tiga kelompok sesuai kemampuan membaca Al-Qur’an, mulai dari kelompok yang sudah lancar, mulai bisa membaca, hingga peserta yang belum mengenal huruf hijaiyah.
Selain pembelajaran agama, rumah tahfidz juga mengembangkan program pendampingan kesehatan bagi para lansia. Setiap bulan dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin, pemeriksaan kesehatan menyeluruh (medical check-up) setiap tiga bulan, serta kegiatan senam bersama. Rumah Tahfidz juga bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, termasuk dalam pelaksanaan kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).
Kebersamaan para santri juga diwujudkan melalui kegiatan sosial. Ketika ada keluarga atau tetangga santri yang meninggal dunia, para lansia secara sukarela melakukan takziah dan menggelar khataman Al-Qur’an di rumah duka.
“Ini sebagai wujud kepedulian dan kemanusiaan. Dari situ banyak warga lansia yang semakin tertarik untuk ikut mengaji,” ungkap Nuryatul.
Rembug Lansia Banyuwangi Jadi Wadah Aspirasi untuk Pembangunan Ramah Lansia
Santri Lansia Semakin Percaya Diri Belajar Al-Qur’an
Salah seorang santri lansia, Nafiah Huda (78), mengaku menjadi peserta angkatan pertama di rumah tahfidz tersebut. Ia menceritakan, saat pertama kali mengikuti pembelajaran, kemampuan membaca Al-Qur’annya masih terbatas. Bahkan, ada peserta lain yang sama sekali belum dapat membaca Al-Qur’an.
Kini, setelah rutin mengikuti pembelajaran, kemampuan mereka terus meningkat.
“Alhamdulillah sekarang sudah semakin lancar,” katanya.
Nafiah mengaku tidak pernah merasa bosan mengikuti kegiatan mengaji dan berharap dapat terus belajar hingga akhir hayat.
“Saya tidak ingin berhenti, ingin terus mengaji sampai akhir hayat,” tegasnya.
Bupati Ipuk Perkuat Layanan Homecare, Pastikan Lansia Sakit Dirawat di Rumah
Diresmikan Kakanwil Kemenag Jawa Timur
Meski telah beroperasi sejak 2022, Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali baru diresmikan secara resmi pada Kamis (30/7/2026) oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar.
Dalam sambutannya, ia menilai keberadaan rumah tahfidz tersebut menjadi bukti bahwa belajar agama tidak dibatasi usia.
“Jadi Rumah Tahfidz ini sudah sesuai sebagai tempat belajar mulai anak-anak hingga lansia. Jangan merasa malu untuk bisa, untuk belajar, untuk paham. Usia berapa pun jangan malu belajar,” tegasnya.
Menurut Akhmad, keberadaan Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali bukan hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga dan melestarikan kalamullah melalui lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an.
“Jadi bukan hanya sekadar untuk belajar Al-Qur’an, tapi menjaga kalamullah. Menjaga kalamullah adalah sebuah kemuliaan,” ujarnya.