Kelurahan Bakungan Banyuwangi Sulap Sampah Jadi Bernilai Ekonomi, Layani 3.000 Warga dengan TPS3R

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 8 Juni 2026, 12:28 WIB
1000885702
Bupati Ipuk melihat proses pengelolaan sampah di TPS3R Bakungan.

BanyuwangiNet.com -Di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah di berbagai daerah, Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, menunjukkan sampah dapat menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai ekonomi. Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, sampah rumah tangga tidak hanya dikurangi volumenya, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah.

Upaya tersebut dijalankan melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Omah Olah Sampah yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Joger Blambangan sejak Juni 2023.

Pengelolaan sampah di Bakungan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga, karang taruna, tokoh masyarakat, hingga kader PKK. Salah satu fokus utamanya adalah membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

“Sampai sekarang terus kami edukasi. Tidak mudah, tapi harus terus dibiasakan dari skala rumah agar memudahkan petugas di TPS untuk mengolahnya,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Bakungan, Prasetyo Suhartono, saat mendampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani meninjau lokasi, Minggu (7/6/2026).

Prasetyo menjelaskan, TPS 3R Omah Olah Sampah saat ini melayani sekitar 3.000 warga. Layanan yang diberikan meliputi pengangkutan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik dan anorganik, produksi hasil olahan sampah, hingga edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Setiap hari, fasilitas tersebut menangani sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah rumah tangga. Dari jumlah itu, sekitar dua kuintal sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi.

Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan untuk budidaya maggot, produksi kompos, dan pupuk organik cair. Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pakan ternak seperti ayam, bebek, dan lele yang dibudidayakan oleh KSM, sekaligus dijual kepada masyarakat.

“Sampah organik yang telah dipilah kami manfaatkan untuk pakan maggot, kompos, dan pupuk organik cair. Maggot kemudian digunakan sebagai pakan ternak seperti ayam, bebek, dan lele yang juga dibudidayakan oleh KSM, serta dijual kepada masyarakat,” jelas Prasetyo.

Keberhasilan Bakungan mengelola sampah secara mandiri mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Menurutnya, keberadaan TPS 3R di tingkat kelurahan membuktikan bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan dari lingkungan terdekat apabila didukung partisipasi masyarakat.

“Bakungan ini menjadi contoh bagaimana persoalan sampah bisa diselesaikan dari tingkat kelurahan. Kuncinya ada pada kepedulian dan gotong royong warga. Ini adalah praktik baik yang bisa direplikasi di desa lain,” kata Ipuk.

Ipuk menambahkan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong desa dan kelurahan untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri guna mendukung fasilitas TPS 3R skala besar yang telah beroperasi di sejumlah wilayah.

Saat ini Banyuwangi memiliki beberapa TPS 3R berkapasitas besar, di antaranya di Balak, Kecamatan Songgon, Tembokrejo, Kecamatan Muncar, serta TPS 3R Kareta yang masih dalam tahap pembangunan.

“Seperti di Bakungan ini, sampah organik telah diselesaikan di sini. Baru yang residu dikirim ke Balak. Kalau masyarakat terlibat aktif seperti di Bakungan, sampah bukan lagi menjadi problem serius, bahkan bisa menjadi sumber manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga,” ujarnya.

Perangkap Sampah Dipasang di Sungai Bate, Banyuwangi: Upaya Bersama Cegah Banjir dan Jaga Lingkungan

Selain pengolahan sampah organik, Kelurahan Bakungan juga mengembangkan inovasi berupa bank sampah digital melalui aplikasi Abank Sayang (Bank Sampah Masyarakat Bakungan).

Aplikasi tersebut digunakan untuk mencatat seluruh aktivitas tabungan sampah warga, mulai dari pendaftaran anggota, penimbangan sampah, hingga konversi nilai ekonomi menjadi saldo tabungan.

Program Banyuwangi Hijau Jangkau 23.410 Rumah Tangga di 73 Desa dengan Pengelolaan Sampah Berbasis TPS3R

Saat ini, sekitar 140 warga tercatat sebagai nasabah aktif bank sampah, yang terdiri dari kader PKK, masyarakat umum, hingga pelajar sekolah dasar.

“Warga cukup membawa sampah yang sudah dipilah ke TPS 3R untuk ditimbang. Nilainya langsung tercatat dalam aplikasi sebagai saldo tabungan. Saldo tersebut dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai maupun ditukar dengan berbagai hadiah,” kata Prasetyo.

Artikel Terkait