Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Tahu Banyuwangi Pilih Perkecil Ukuran
BanyuwangiNet.com – Kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan dampaknya oleh produsen tahu di Banyuwangi. Meski biaya produksi terus meningkat, para pengusaha tahu memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan di tengah persaingan usaha yang ketat.
Salah satu produsen tahu di Banyuwangi, Nurul Hakim (57), warga Kelurahan Pengantigan, mengatakan harga kedelai impor mengalami kenaikan bertahap sejak Desember 2025.
Pada akhir 2025, harga kedelai impor masih berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram. Namun memasuki Ramadan 2026, harga naik menjadi Rp10 ribu per kilogram dan kini mencapai Rp10.500 per kilogram.
“Bulan Puasa itu harganya sudah Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp10.500 per kilogram,” ujar Nurul, Rabu, (27/5/2026).
Nurul yang telah menjalankan usaha tahu sejak 2005 mengaku membutuhkan sekitar 125 kilogram kedelai setiap hari untuk produksi. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga bahan baku sangat memengaruhi biaya operasional usahanya.
“Dampaknya besar sekali,” tegasnya.
Meski biaya produksi meningkat, Nurul tidak berani menaikkan harga tahu. Ia khawatir pelanggan beralih ke produsen lain karena persaingan usaha tahu di Banyuwangi cukup ketat.
Sebagai solusi, ia memilih mengurangi ukuran tahu agar harga jual tetap terjangkau bagi pelanggan.
Stok Bahan Pokok di Banyuwangi Aman, Bupati Ipuk Pantau Stabilitas Harga
“Tidak bisa menaikkan harga, karena kompetitor banyak. Kalau kita naikkan nanti pelanggan pindah ke yang lain. Karena yang lain belum tentu menaikkan harga,” katanya.
Selain harga kedelai, kenaikan biaya listrik juga ikut membebani usaha produksi tahu. Listrik digunakan untuk mengoperasikan mesin penggiling kedelai, blower, dan pompa air selama proses produksi.
Menurut Nurul, tagihan listrik usahanya kini meningkat cukup signifikan, dari sebelumnya sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp1,7 juta per bulan.
“Keuntungannya berkurang,” ungkapnya.
Nurul mengaku sebenarnya lebih memilih menggunakan kedelai lokal karena kualitas rasa dinilai lebih gurih dibanding kedelai impor. Namun, pasokan kedelai lokal saat ini sulit diperoleh.
“Kalau kedelai impor suplainya tidak pernah telat,” ujarnya.
Mulai 1 Juni 2026, RSUD Blambangan Banyuwangi Buka Layanan Kemoterapi Bagi Peserta BPJS Kesehatan
Selama ini mayoritas konsumennya merupakan pedagang bakso dan siomai, sementara pembeli rumah tangga jumlahnya tidak terlalu banyak.
Menjelang Hari Raya Iduladha, permintaan tahu biasanya juga mengalami penurunan karena masyarakat lebih banyak mengonsumsi daging kurban.
“Menjelang Iduladha sampai Hari H biasanya berkurang sekitar 10 persen,” kata Nurul.