Diaspora Banyuwangi 2026, Spirit Tandang Bareng Perkuat Kontribusi Perantau untuk Daerah

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 23 Maret 2026, 16:34 WIB
Diaspora Banyuwangi kembali digelar di Pendopo Shaba Swagata Blambangan, Senin (23/3/2026). Acara tahunan yang jadi ajang pertemuan para perantau tersebut berlangsung penuh keakraban. Diiringi musik kendang kempul dan aneka kuliner lokal, juga jadi ajang membangun solidaritas para perantau Banyuwangi yang hadir dari Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga Jerman dan Amerika Serikat.
Diaspora Banyuwangi kembali digelar di Pendopo Shaba Swagata Blambangan, Senin (23/3/2026). Acara tahunan yang jadi ajang pertemuan para perantau tersebut berlangsung penuh keakraban. Diiringi musik kendang kempul dan aneka kuliner lokal, juga jadi ajang membangun solidaritas para perantau Banyuwangi yang hadir dari Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga Jerman dan Amerika Serikat.

BanyuwangiNet.com – Pertemuan diaspora Banyuwangi kembali digelar di Pendopo Shaba Swagata Blambangan, Senin (23/3/2026). Kegiatan tahunan ini menjadi ajang silaturahmi para perantau Banyuwangi dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Suasana kebersamaan terasa kental dalam acara yang dihadiri diaspora dari Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga negara seperti Jerman dan Amerika Serikat. Pertemuan tersebut juga diiringi musik tradisional kendang kempul serta sajian kuliner khas Banyuwangi.

Pertemuan diaspora ini sekaligus memperkuat komitmen kebersamaan yang dikenal dengan istilah tandang bareng. Dalam budaya Osing, istilah tersebut menggambarkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan saling membantu.

Bupati Ipuk dan Forkopimda Patroli Malam Takbiran, 1.000 Lebih Personel Amankan Banyuwangi

“Semangat tandang bareng ini adalah modal yang terus kita jaga. Tak bisa kita berjalan sendiri-sendiri. Tapi, harus kompak dan saling membantu,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Ipuk mengajak seluruh diaspora Banyuwangi untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah meskipun tinggal di luar daerah atau luar negeri.

Menurutnya, kemajuan Banyuwangi saat ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk para perantau yang turut mengharumkan nama daerah di berbagai tempat.

“Berkat kerjasama kita semua, saat ini Banyuwangi terus menunjukkan tren pertumbuhan positif di tengah tantangan yang semakin kompleks,” ujarnya.

Atasi Kelangkaan LPG 3 Kg, Pemkab Banyuwangi Gelar Operasi Pasar di Seluruh Kecamatan

Ipuk menyebut beberapa indikator ekonomi daerah menunjukkan perkembangan positif. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2025 mencapai 5,65 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,11 persen dan Jawa Timur sebesar 5,33 persen.

Pendapatan per kapita masyarakat juga meningkat hingga Rp67,08 juta pada 2025, tertinggi di kawasan Sekarkijang yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang.

Selain itu, angka kemiskinan turun menjadi 6,13 persen atau berkurang 0,41 persen dibanding tahun sebelumnya. Indeks ketimpangan (gini ratio) tercatat 0,29 dan tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,94 persen.

“Capaian ini bukan semata kerja kami, tapi atas doa, dukungan, dan tandang bareng semua pihak, termasuk para diaspora,” kata Ipuk.

Pelabuhan Ketapang Tutup Saat Nyepi, Sopir Truk Tertahan 34 Jam di Banyuwangi

Semangat kebersamaan para diaspora tidak hanya ditunjukkan untuk membantu Banyuwangi, tetapi juga memberikan kontribusi di daerah lain.

Nur Hidayat dari Ikawangi Sumatera Utara menceritakan bahwa masyarakat Banyuwangi turut membantu warga di wilayahnya setelah bencana banjir bandang.

“Atas bantuan dari warga Banyuwangi, kami bisa membuka puluhan sumur bor untuk akses air bersih bagi warga yang tinggal di Sibolga dan Aceh,” ungkapnya.

Sementara itu, Wulan, diaspora asal Kalibaru yang kini tinggal di Osaka, Jepang, juga menyatakan kesiapan membantu warga Banyuwangi yang ingin bekerja di Jepang.

Perempuan yang telah tinggal sekitar 30 tahun di Jepang tersebut bekerja di Kedutaan Besar Indonesia dan siap memfasilitasi peluang kerja melalui program kerja sama antar pemerintah (G to G).

ASDP Prediksi Puncak Arus Balik Ketapang 26-30 Maret 2026, Truk Besar Diminta Patuhi SKB

“Kami siap membantu jika ada warga Banyuwangi yang ingin bekerja di Jepang. Melalui program G to G, saat ini sedang dibutuhkan banyak tenaga kesehatan di Jepang,” ujarnya.

Penasehat Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Pusat, Arief Yahya, mengatakan diaspora dapat berkontribusi membangun daerah dengan berbagai cara sesuai bidang masing-masing.

Menurut mantan Menteri Pariwisata RI 2014–2019 tersebut, terdapat tiga sektor utama yang menjadi prospek ekonomi Banyuwangi.

Pertama adalah sektor pariwisata, di mana diaspora dapat berperan mempromosikan destinasi wisata Banyuwangi di tempat mereka tinggal.

Bupati Banyuwangi Ipuk Ajak Puluhan Anak Yatim Nobar Film Na Willa di Bioskop

“Semuanya bisa turut mempromosikan wisata Banyuwangi di tempat perantauan masing-masing. Jadilah duta terbaik Banyuwangi,” ujarnya.

Selain pariwisata, potensi ekonomi lainnya adalah blue economy serta posisi strategis Banyuwangi sebagai penghubung logistik antara Indonesia bagian barat dan timur.

Menurut Arief, keberadaan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) yang nantinya terhubung hingga Banyuwangi akan memperkuat peran daerah tersebut sebagai gerbang distribusi barang menuju wilayah Indonesia timur.

Artikel Terkait