Bupati Ipuk Geber Banyuwangi Ayo Mengajar, Terjunkan 400 Relawan ke Sekolah di Desa

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Sabtu, 20 November 2021, 14:02 WIB
IMG-20210413-WA0090
Bupati Ipuk Geber Banyuwangi Ayo Mengajar, Terjunkan 400 Relawan ke Sekolah di Desa

BANYUWANGI– Menyemangati para pelajar untuk tetap semangat mengikuti pembelajaran di situasi pandemi, Pemkab Banyuwangi kembali menggelar Banyuwangi Ayo Mengajar serempak di seluruh satuan pendidikan di Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi mengundang masyarakat dari berbagai profesi untuk bergabung sebagai relawan untuk terjun memotivasi siswa-siswa tersebut.

Para relawan terpilih akan diterjunkan ke sekolah-sekolah dalam program ini. Banyuwangi Ayo Mengajar merupakan kelas motivasi singkat bagi para pelajar dengan mendatangkan motivator (relawan) dari lintas profesi.

“Ini cara kita untuk membangkitkan semangat dan motivasi anak-anak. Kita hadirkan ‘motivator’ tamu untuk berbagi inspirasi dan pengalaman-pengalaman sukses agar anak-anak bisa mengenal lebih dini beragam profesi, membangun imajinasinya, sehingga bisa menentukan cita-citanya,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Tidak sekadar mengajar, lanjut Ipuk, para motivator ini nanti kami juga bercerita seputar profesi mereka maupun tantangan terkini yang mereka hadapi.

“Ini adalah wujud komitmen kami untuk merespon adanya perubahan dunia akibat pandemi covid 19 yang menjadi tantangan bangsa ke depan. Kami ajak ratusan relawan motivator hebat agar mereka bisa bercerita dan memotivasi siswa-siswa,” kata Ipuk.

Banyuwangi Ayo Mengajar 2021 bakal digelar awal Desember 2012 mendatang di 400 sekolah secara serentak. Kegiatan ini menyasar siswa SD dan SMP sederajat di seluruh Banyuwangi, termasuk di desa-desa.

Banyuwangi Ayo Mengajar juga bakal melibatkan 400 relawan dari 62 jenis lintas keahlian. Mulai dari polisi, TNI, jaksa, hakim, pengusaha muda, ekonom, konselor, pelaku wisata, dan masih banyak lainnya.

“Tahun ini kita gelar kembali karena dampaknya terlihat. Anak-anak khususnya yang ada di sekolah-sekolah di desa merasa senang karena bisa ketemu sosok baru yang bisa menginspirasi mereka. Ini juga jadi ajang me-refresh siswa, biar enggak bosan ketemu guru yang sama terus,” ujar Ipuk.

“Saya juga akan ikut mengajar,” imbuh Ipuk.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, pendaftaran relawan Banyuwangi Ayo Mengajar telah dibuka sejak 8-27 November 2021. Pelamar bisa langsung mengisi formulir pendaftaran online di

“Kita akan merekrut 400 relawan untuk mengisi 400 titik. Tidak ada batasan usia. Siapa saja bisa mendaftar. Syaratnya, minimal S1 dari semua disiplin ilmu. Bahkan kita utamakan yang bukan dari profesi keguruan,” terang Suratno.

“Motivator terbaik akan kami berikan hadiah menarik,” imbuhnya.

Banyuwangi Ayo Mengajar Lengkapi Program Banyuwangi Mengajar

Banyuwangi Ayo Mengajar kian melengkapi program pendidikan di Banyuwangi. Sebelumnya sejak 2015 Banyuwangi telah memilliki program Banyuwangi Mengajar. Program inovasi Pemkab Banyuwangi yang menerjunkan sarjana untuk mengajar siswa-siswa di wilayah pelosok ini, meraih Top 30 Kompetisi Pelayanan Publik yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo kepada kepada Sekretaris Daerah Banyuwangi Mujiono, di Surabaya, Jumat (19/11/2011). Turut mendampingi Menpan RB, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

“Terima kasih kepada Pak Menteri TjahjonKumolo, Pemprov Jatim dan Gubernur Jatim Ibu Khofifah yang terus menyemangati Banyuwangi untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Matur nuwun atas kepercayaan dan bimbingannnya selalu,” kata Mujiono, usai menerima penghargaan.

Program ‘Banyuwangi Mengajar’ merupakan inovasi di bidang pendidikan untuk peningkatan kualitas SDM di desa-desa yang secara geografis sulit dijangkau. Setiap tahun, puluhan sarjana muda dikirim ke desa-desa dengan akses tersulit, dan wajib tinggal di sana selama satu tahun.

“Alhamdulillah, ini juga menjadi kemenangan bagi para sarjana yang telah mengabdi sebagai pendidik bagi siswa-siswa kami yang berada di wilayah yang aksesnya sulit dijangkau. Terima kasih kepada mereka yang telah bergabung bersama kami dalam program ini, terima kasih atas pengabdiannya,” cetus Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Program Banyuwangi Mengajar ini digagas Pemkab Banyuwangi sejak 2015. Program ini mengajak para lulusan perguruan tinggi untuk mengabdikan ilmunya dengan mengajar anak usia sekolah di wilayah pelosok Banyuwangi. Para pengajar diberikan insentif bulanan secara khusus oleh Pemkab Banyuwangi.

“Ini adalah upaya transformasi SDM. Bagi kami, desa bukan hanya butuh dana, tapi juga butuh inspirasi yang bisa digerakkan oleh anak-anak muda ini. Mereka mengajar, berinteraksi, memberi kursus dan sebagainya. Kehadiran mereka kami harapkan bisa memberi nilai tambah bagi pendidikan anak-anak di wilayah pinggiran,” kata Ipuk.

Hingga saat ini. pemkab telah merekrut total sekitar 240 relawan sarjana fresh greaduate untuk terjun dalam program Banyuwangi Mengajar. Mereka adalah para penerima program beasiswa Banyuwangi Cerdas yang telah menyelesakan kuliahnya.

“Ini salah satu solusi kami di tengah kurangnya tenaga pengajar di Banyuwangi. Kami mengajak anak muda yang notabene idealismenya masih tinggi untuk menularkan ilmunya kepada sesama, pasti ini merupakan pengalaman berharga bagi mereka,” ujar Ipuk.

“Para relawan ini disebar di 24 sekolah, yakni 17 SD dan 7 SMP di kecamatan yang memiliki kawasan pegunungan, hutan, dan perkebunan dengan akses tersulit,” kata Ipuk.

Ipuk menyebut, sejak digagas pada 2015 lalu, inovasi Banyuwangi Mengajar telah banyak memberikan kontribusi positif bagi pendidikan anak-anak di wilayah akses tersulit tersebut.

Baca Juga:

Banyuwangi Mengajar Raih Top 30 Kompetisi Layanan Publik

Kunjungan Wisata Meningkat, Banyuwangi Perkuat Sektor Penunjang

Misalnya, angka putus sekolah turun drastis dari 6,88 persen menjadi 0,02 persen; angka melanjutkan sekolah meningkat dari 57,82 persen menjadi 89,65 persen; angka kelulusan juga naik dari 92,5 persen menjadi 99,98 persen. Selain itu, angka pekerja anak juga terpantau turun dari 255 anak menjadi zero.

Sebelumnya, Bupati Ipuk telah melewati fase penjurian dalam kompetisi ini. Tim dewan juri ini terdiri atas Guru Besar Fisipol Unair, Prof. Dr. Jusuf Irianto; Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jatim, Agus Muttaqin; Direktur The Jawa Pos Institute of Pro Otonomi, Dr. Rohman Budijanto; Advisor Program Transformasi – GIZ wilayah Jatim, Redhi Setiadhi; Anggota GIZ wilayah Jatim, Dina Limanto; dan Responsive Governance Kompak East Java, Didik Purwondanu.

Banyuwangi Mengajar adalah program yang digagas Dinas Pendidikan Pemkab Banyuwangi sejak 2015. Ini merupakan gerakan yang mengajak lulusan perguruan tinggi, untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak pedesaan, khususnya di desa terpencil. Program ini merupakan upaya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), yang disentuh oleh Pemkab Banyuwangi. Melalui program Banyuwangi Mengajar itu, Pemkab Banyuwangi mengirimkan sarjana-sarjana terbaiknya untuk mengabdikan diri, mengajar, dan memberi motivasi kepada anak-anak di desa-desa terpencil.

Banyuwangi Mengajar ini telah diikuti 50 pengajar muda. Tahun ini Dinas Pendidikan Pemkab Banyuwangi merekrut 20 fresh graduate untuk disebar ke berbagai desa. Para peserta Banyuwangi Mengajar ini merupakan lulusan sarjana yang menjadi relawan yang ditempatkan di seluruh daerah terjauh, terluar, tertinggal, terjauh, daerah dengan tingkat akses sulit (Detas) di Banyuwangi. Mereka mengabdikan diri membantu penuntasan pemberantasan buta aksara dan peningkatan pendidikan.

Banyuwangi Mengajar menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kurangnya tenaga pengajar khususnya di daerah pinggiran. Mereka adalah anak-anak muda yang masih mempunyai idealisme tinggi. Masih fresh. Bukan hanya mengajar tapi juga menggerakkan masyarakat di sekitar. Mereka bebas untuk berkreasi. Pengajar Muda yang mengikuti program Banyuwangi Mengajar mayoritas adalah mahasiswa asal Kabupaten Banyuwangi yang baru saja lulus dari semua disipin keilmuan. Mereka telah memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang ditentukan. Seleksi dilakukan oleh perguruan tinggi. Para pengajar ini diberikan insentif senilai Rp 2 juta per bulan, dan akan diperpanjang kontraknya setiap 2 tahun sekali.

Artikel Terkait