Antrean Kendaraan ke Pelabuhan Ketapang Mengular, Dipicu Volume Kendaraan Naik 21 Persen dan Cuaca Buruk

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Senin, 22 Juni 2026, 22:19 WIB
WhatsApp Image 2026-06-22 at 22.04.36
Petugas Kepolisian melakukan pengaturan lalu lintas di depan pelabuhan Ketapang.

BanyuwangiNet.com – Antrean kendaraan kembali terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kemacetan yang didominasi kendaraan logistik ini mulai terjadi sejak Minggu (21/6/2026) dan berlanjut hingga Senin (22/6/2026).

Lonjakan volume kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali serta cuaca buruk di perairan Selat Bali menjadi faktor utama yang memicu panjangnya antrean.

Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan sempat mengular hingga kawasan Watudodol atau sekitar 7 kilometer dari Pelabuhan Ketapang. Bahkan sejumlah kendaraan masih terlihat mengantre di ruas jalan menuju pelabuhan hingga Senin siang.

General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko, mengatakan kepadatan kendaraan mulai terjadi sejak Minggu siang dan terus berlanjut hingga malam hari. Menurutnya, antrean tidak hanya disebabkan meningkatnya jumlah truk logistik, tetapi juga lonjakan kendaraan pribadi, bus, dan sepeda motor yang menggunakan jasa penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

“Dari hari Minggu siang sampai dengan malam hari dan sampai hari ini, sehingga dengan adanya lonjakan itu maka berimbas terhadap adanya antrean di sini,” kata Arief, Senin (22/6/2026).

Data ASDP menunjukkan jumlah kendaraan yang menyeberang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hari sebelumnya.

“Kalau untuk keseluruhan totalnya itu peningkatan kendaraan terjadi 21 persen. Jadi dari 7.000 unit hari sebelumnya menjadi 9.600 unit di hari Minggu kemarin,” jelasnya.

Peningkatan tersebut menyebabkan kapasitas layanan penyeberangan bekerja lebih berat, terutama pada jam-jam padat.

Selain lonjakan kendaraan, kondisi cuaca di Selat Bali turut memperparah antrean. Arus laut yang kuat dan gelombang tinggi pada Minggu malam hingga Senin dini hari menyebabkan sejumlah kapal mengalami kesulitan saat bersandar di Pelabuhan Ketapang.

Kondisi tersebut berdampak pada proses bongkar muat kendaraan sehingga memperlambat perputaran kapal.

“Sehingga mempengaruhi beberapa kapal yang terjadi gagal sandar di Pelabuhan Ketapang dan itu mempengaruhi waktu bongkar kendaraan serta berdampak terhadap antrean,” ujar Arief.

Gangguan operasional akibat cuaca membuat waktu pelayanan menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal. Untuk mengurai kepadatan, ASDP telah berkoordinasi dengan Polresta Banyuwangi dalam melakukan pengaturan lalu lintas di sekitar kawasan pelabuhan.

Kendaraan yang keluar dari Pelabuhan Ketapang diarahkan menuju jalur selatan agar kendaraan yang akan masuk ke pelabuhan dari arah utara dapat bergerak lebih lancar.

Sementara itu, kendaraan logistik diarahkan terlebih dahulu ke kantong parkir Bulusan sebelum masuk ke area pelabuhan.

“Kemudian untuk kendaraan truk dialihkan ke Bulusan terlebih dahulu sebelum dialihkan ke pelabuhan,” jelas Arief.

Selain rekayasa lalu lintas, ASDP juga menambah dukungan armada kapal untuk mempercepat proses penyeberangan.

Saat ini sebanyak 29 kapal dioperasikan, terdiri dari 28 kapal reguler dan satu kapal perbantuan yang beroperasi di Dermaga LCM. Kapal tambahan tersebut menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) secara penuh guna mempercepat pergerakan kendaraan.

“Di LCM ini sekarang ada 10 unit kapal. Sembilan kapal menerapkan pola TBB secara bergantian, sedangkan satu kapal melaksanakan full TBB,” terangnya.

Panjangnya antrean tidak hanya menguras waktu perjalanan, tetapi juga menambah beban operasional para sopir truk. Lukman, salah seorang sopir truk yang mengangkut pakan ternak dari Surabaya menuju Bali, mengaku sudah terjebak kemacetan sejak pukul 06.00 WIB di kawasan Watudodol.

ASDP Ketapang Perkuat Layanan Hadapi Libur Sekolah, Arus Wisata ke Bali Diprediksi Meningkat

Hingga sekitar pukul 14.00 WIB, kendaraannya masih belum masuk ke area pelabuhan dan masih menunggu giliran masuk ke kantong parkir.

“Ini masih mau masuk kantong parkir,” katanya.

Menurut Lukman, antrean panjang di jalur Ketapang-Gilimanuk sudah menjadi persoalan yang hampir terjadi setiap hari. Akibat kondisi tersebut, biaya operasional terus meningkat karena tambahan konsumsi dan bahan bakar selama menunggu.

“Kalau sehari saja bisa nambah Rp150 ribu untuk makan dan rokok,” ungkapnya.

Kapal Eks LCT di Lintasan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Harus Diganti Kapal Penumpang Murni dalam 2 Tahun

Ia menambahkan, jika dalam kondisi normal bisa melakukan dua kali pengiriman dalam sehari, kini produktivitas angkutan menurun drastis akibat antrean panjang.

“Kadang delapan hari hanya satu rit saja. Kami berharap ada solusi, masa tiap hari seperti ini,” ujarnya.

Artikel Terkait