Terdampak Harga Elpiji Naik, Pelaku Usaha Laundry Banyuwangi Pilih Tahan Tarif
BanyuwangiNet.com – Pelaku Usaha laundry di Banyuwangi dibuat pusing dengan kenaikan harga berbagai bahan. Sejak beberapa bulan lalu, beberapa bahan untuk usaha binatu mengalami lonjakan harga. Yakni metanol untuk parfum dan plastik. Kini pelaku usaha laundry juga terdampak kenaikan harga elpiji nonsubsidi.
Kondisi ini membuat para pelaku usaha laundry harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan. Saat terjadi kenaiakn elpijji non subsidi, pelaku usaha laundry tidak berani menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan. Apalagi saat kenaikan metanol dan plastik mereka sudah melakukan penyesuaian harga.
Salah satu pelaku usaha laundry, Wulan Vita, mengatakan, dirinya telah menaikkan tarif laundry reguler dalam waktu kurang dari sebulan terakhir. Tarif reguler naik seribu rupiah per kg dari Rp7 ribu per kilogram menjadi Rp8 ribu per kilogram.
“Harga reguler yang kita naikkan, yang one day tidak kita naikkan, tetap bertahan Rp15 ribu per kilogram,” terang pemilik Q-ta Laundry ini, Kamis, (23/4/2026).
Bupati Ipuk Dorong Ikawangi Jadi Agen Promosi Budaya, Ekonomi, dan Investasi Banyuwangi
Kenaiaka tersebut adalah dampak dari kenaikan bahan dasar seperti bahan farfum dan plastik. Sekarang harga elpiji non subsidi naik. Kondisi ini membuatnya kebingungan. Dia mengaku belum berani menaikkan harga lagi karena takut pelanggannya kabur.
“Kita kalau naik lagi dengan kondisi ekonomi sekarang, konsumennya pasti mikir juga, karfena pengeluaran makin besar,” terangnya.
Dalam usaha laundry, elpiji digunakan untuk proses pengeringan dan setrika. Usaha laundry tidak diperbolehkan menggunakan elpiji subsidi. Kenaikan harga elpiji ini otomatis menambah beban biaya produksi yang sudah meningkat sebelumnya.
“Untuk elpiji 12 kg itu habis untuk kebutuhan 2–3 hari, atau setara 200 kg cucian,” jelas Wulan.
Senada, Joko Supaat, pemilik Bening Laundry, mengatakan, kenaikan harga bahan baku tergolong signifikan, terutama metanol yang digunakan untuk campuran parfum pakaian.
“Biasanya Rp400 ribu per jeriken, sekarang Rp800 ribu,” ungkapnya.
Audisi BEC 2026 Dimulai, Usung Tema Heroik Perang Bayu
Selain itu, harga plastik juga mengalami kenaikan tajam, bahkan mencapai dua kali lipat. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi situasi global yang berdampak pada rantai pasok bahan baku.
Untuk menekan biaya, pelaku usaha mulai mengurangi penggunaan plastik. Kantong besar yang biasanya disediakan kini ditiadakan, dan pelanggan diminta membawa sendiri dari rumah. Laundry hanya menyediakan plastik bening untuk membungkus pakaian yang sudah disetrika.
“Margin usaha semakin tipis. Di sisi lain, penyesuaian harga juga sulit karena konsumen sensitif terhadap kenaikan,” jelas Joko.
Tekanan tidak hanya datang dari sisi biaya, tetapi juga dari menurunnya daya beli masyarakat. Pelaku usaha mengaku jumlah pelanggan mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.
“Turunnya sekitar 30 persen. Masih mending saat pandemi covid-19 dulu,” pungkasnya.