Raih Aga Khan Award for Architecture 2022, Bandara Banyuwangi Obati Penantian 27 Tahun Indonesia

BanyuwangiNet - BanyuwangiNet
Minggu, 6 November 2022, 10:02 WIB
IMG-20220607-WA0095
Raih Aga Khan Award for Architecture 2022, Bandara Banyuwangi Obati Penantian 27 Tahun Indonesia

Bandara Banyuwangi ditetapkan sebagai peraih penghargaan Aga Khan Award for Architecture 2022. Ini sekaligus menghentikan penantian Indonesia selama 27 tahun.

BanyuwangiNet-Melawan konsep bandara yang eksklusif, Bandara Banyuwangi ditetapkan sebagai peraih penghargaan Aga Khan Award for Architecture 2022. Ini sekaligus menghentikan penantian Indonesia selama 27 tahun, yang tak pernah berjaya di ajang arsitektur paling bergengsi dunia tersebut.

Di ajang Aga Khan Award for Architecture 2022, Bandara Banyuwangi menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia. Sejak diluncurkan 45 tahun lalu, Aga Khan Award telah menetapkan 121 proyek penerima penghargaan, serta hampir 10.000 proyek sedunia didokumentasikan.

Aga Khan Awards for Architecture adalah penghargaan tertua di bidang arsitektur yang dilaksanakan tiap tiga tahun sekali. Karya-karya yang masuk nominasi merupakan  karya yang tidak hanya memperhatikan keunggulan arsitektur, namun juga merespon aspirasi budaya, mendukung konservasi, serta peningkatan kualitas lingkungan.

Pendaftaran PPPK Dibuka, Banyuwangi dapat Kuota 552 Formasi

Penghargaan bergengsi tersebut diterima langsung oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, di Royal Opera House of Muscat Arts, Muscat, Oman, 31 Oktober 2022. Dalam penganugerahan tersebut, selain dihadiri para arsitek terkenal dari seluruh dunia, juga dihadiri oleh Putera Mahkota Kerajaan Oman, Theyazin bin Haitham Al Said; serta Princess Zahra Aga Khan.

Bandara Banyuwangi meraih Aga Khan Award karena dinilai memiliki arsitektur yang mengusung nilai-nilai pembaruan. Bandara yang mengusung Green Airport itu diarsiteki Andra Matin serta diinisiasi pada masa Bupati Abdullah Azwar Anas. Bandara ini menerobos konsep bandara yang pada umumnya tertutup dan eksklusif.

Raih Aga Khan Award for Architecture 2022, Bandara Banyuwangi adalah Perlawanan Elegan

“Tidak seperti bangunan bandara lain yang kerap merupakan tempat kedap, tertutup, dan terasing dari lingkungan sekitar, Bandara Banyuwangi adalah perlawanan elegan terhadap bentuk bandara pada umumnya,” tulis para juri dalam keputusan pemenang.

Berdasarkan penilaian juri independen, bandara yang selesai dibangun 2017 itu, mencerminkan aspirasi komunitas dan membawa identitas serta memori budaya, dengan inovasi dan teknologi yang baru. Yakni desain bernuansa tradisional berbentuk ikat kepala Suku Osing yang merupakan masyarakat asli Banyuwangi.

Perupa Hasilkan Karya Lukisan Gandrung Raksasa di Gandrung Sewu Banyuwangi

Bandara Banyuwangi juga disebut menghindari gaya standard internasional sebagian besar bandara di dunia. Konsep Bandara Banyuwangi berangkat dari rasa kekhawatiran akan keberlanjutan, jumlah populasi yang kian meningkat, adaptasi iklim, serta kualitas hidup, sehingga skema pembangunan yang diterapkan bersandar pada sumber daya lokal, teknologi tepat guna, dan prinsip-prinsip desain pasif vernakular.

Kondisi negara Indonesia yang memiliki iklim panas disiasati dengan infrastruktur konektivitas yang menciptakan bukaan dan overhang yang dapat mengoptimalkan pengendalian suhu melalui ventilasi alami. Selain itu, pengaturan berkelanjutan dari lansekap ke ruang interior membantu aliran udara, dengan pepohonan rindang nan subur, menjadikan bangunannya bernuansa alam.

“Bandara ini bisa menjadi paradigma baru dan game changer di waktu mendatang dalam arsitektur bandara,” tegas dewan juri.

Pemilihan material, pemerintah Banyuwangi bersama arsitek Andra Matin menekankan nilai-nilai lokal, fungsionalitas, dan pemeliharaan berbiaya rendah, namun tetap memiliki nilai modern dan efisien dalam segala aspek.

Bentuk pintu masuk dan jendela terluar dari kayu ulin yang melengkung memberikan kekosongan termal, dan dilapisi rumput untuk menutupi isolasi lebih lanjut.

Lebih jauh, para dewan juri juga menilai, arsitektural Bandara Banyuwangi juga memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Seperti halnya mengharmonisasi keberadaan bandara dengan alam di sekitarnya. Kawasan di sekitar bandara diproteksi sebagai lahan hijau dengan landskap persawahan.

“Salah satu unsur penilaiannya termasuk bagaimana karya itu berdampak pada banyak manusia di sana dan di sekitarnya,” tutur arsitek Andra Matin yang turut hadir di Oman.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengungkapkan kehadiran bandara ini, selain capaian di bidang arsitektur dan menjadi landmark daerah, juga telah mampu menggerakkan perekonomian lokal dengan kemudahan akses ke Banyuwangi.

“Bandara menjadi salah satu pengungkit kemajuan Banyuwangi. Semoga ini berkah manfaat. Membawa kebanggaan. Menghadirkan keberkahan. Meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Ipukz

Sebelumnya, Banyuwangi juga telah kerap meraih prestasi dunia. Di antaranya peringkat pertama tata kelola kebijakan pariwisata dari Badan Pariwisata PBB (UNWTO). Banyuwangi kini juga dalam proses menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark.