Perang Timur Tengah dan Rupiah Melemah, Biaya Operasional Kapal Penyeberangan Melonjak
BanyuwangiNet.com – Perang Timur Tengah dan melemahnya rupiah memicu kenaikan harga spare part serta oli kapal. Konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan dampaknya oleh sektor pelayaran.
Operator kapal penyeberangan mengeluhkan meningkatnya biaya operasional akibat lonjakan harga suku cadang dan kebutuhan perawatan kapal yang sebagian besar bergantung pada produk impor.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah memberikan tekanan langsung terhadap biaya perawatan armada. Sebab, sebagian besar komponen kapal diperdagangkan menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
“Semua harga spare part dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar, karena harganya pakai dolar,” jelas Nurjatim, Minggu (7/6/2026).
Menurut Nurjatim, beberapa komponen yang mengalami kenaikan harga antara lain filter oli dan nozzle injector. Kedua komponen tersebut merupakan suku cadang yang rutin diganti berdasarkan jam operasional mesin kapal.
“Sekitar 500 sampai 1.000 jam harus ganti,” terangnya.
Kenaikan harga spare part membuat operator kapal harus melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menekan biaya operasional. Salah satu caranya adalah memaksimalkan penggunaan komponen yang masih layak pakai.
Filter oli yang masih dapat dibersihkan dan digunakan kembali akan dipertahankan lebih lama. Begitu pula dengan sejumlah komponen lain seperti pipa yang masih memungkinkan diperbaiki melalui proses pengelasan daripada langsung diganti dengan yang baru.
Langkah efisiensi tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan operasional di tengah meningkatnya biaya perawatan armada.
Nurjatim menjelaskan, kenaikan biaya operasional tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan perusahaan pelayaran. Bahkan, dalam beberapa kondisi, pendapatan justru cenderung menurun apabila jumlah perjalanan kapal tidak mencapai target ideal.
“Pendapatan turun sedangkan biaya operasional semakin tinggi,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat operator kapal harus bekerja lebih keras menjaga efisiensi tanpa mengurangi standar keselamatan dan pelayanan kepada pengguna jasa penyeberangan.
Upaya ASDP Percepat Arus Balik Lebaran 2026 di Ketapang–Gilimanuk
Sementara itu, Ketua DPD Gapasdap Jawa Timur, Putu Widiana, menyebut, kenaikan biaya operasional tidak hanya terjadi pada spare part, tetapi juga pada kebutuhan pelumas atau oli kapal.
Menurutnya, sebelum konflik di Timur Tengah memanas, harga oli kapal berkisar Rp4,5 juta per drum berkapasitas 209 liter. Namun harga tersebut terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Ketika terjadi perang di Timur Tengah harga oli naik menjadi Rp6,7 hingga Rp6,95 juta per drum. Per 2 Juni 2026 harga oli sudah mencapai Rp9,330 juta per drum,” kata Putu.
ASDP Pastikan Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk Tetap Aman Jelang Libur Iduladha 2026
Kebutuhan oli setiap kapal berbeda-beda, tergantung ukuran dan intensitas operasional armada. Namun rata-rata satu kapal membutuhkan minimal dua drum oli setiap bulan untuk menunjang kinerja mesin.
“Dari sisi operasional pembiayaan cost-nya naik terus, sementara tidak terdukung dengan kenaikan tarif,” ujarnya.