Pelatihan Fisioterapi Perkins International Perkuat Pendidikan ABK di Banyuwangi
BanyuwangiNet.com – Upaya memperkuat layanan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Banyuwangi kembali mendapat dukungan internasional. Perkins International, organisasi pendidikan berbasis di Boston, Amerika Serikat, menggelar pelatihan fisioterapi bagi ratusan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan orang tua ABK. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan pendamping dan pendidik dalam memberikan stimulasi fisik yang tepat kepada anak dengan hambatan motorik.
Pelatihan ini menghadirkan Dr. Loganathan Gurusamy, Fisioterapis Pediatrik Neuro asal India, yang memberikan pemahaman mengenai fisioterapi dasar untuk mendukung perkembangan fisik anak. Ia mengajarkan teknik-teknik sederhana yang bisa diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk cara mengaktifkan otot tubuh anak agar lebih kuat dan responsif.
Bupati Ipuk Masuk Tiga Besar Most Inspiring Tourism Leader di Wonderful Indonesia Award 2025
Dr. Loganathan mengatakan pola asuh di kawasan Asia Tenggara cenderung sangat protektif, terutama terhadap anak yang memiliki disabilitas. Kondisi tersebut, katanya, sering membuat anak menjadi kurang mandiri.
“Melindungi itu bagus, tapi kita harus tahu kapan harus melakukannya. Tidak boleh berlebihan sehingga tidak menyebabkan anak terlalu bergantung pada orang tua, terutama pada anak penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa anak perlu dilatih untuk berpartisipasi aktif dalam aktivitas harian, karena hal itu membantu menjaga kekuatan otot serta melatih kemampuan motorik.
“Anak harus dilatih untuk bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan sehari-hari, salah satunya agar ototnya tidak semakin melemah,” imbuhnya.
Dua Inovasi Banyuwangi Masuk Finalis Top Inovasi Terbaik Kovablik Jatim 2025
Dalam sesi praktik, Dr. Loganathan mencontohkan berbagai gerakan stimulasi yang bisa dilakukan guru dan orang tua. Salah satunya adalah menghindari kebiasaan langsung menggendong anak ketika memindahkan posisi mereka.
“Anak jangan langsung digendong jika ingin dipindahkan, tapi mereka diminta menggerakkan tubuhnya secara aktif sesuai instruksi,” jelasnya.
Wartini, salah satu orang tua ABK yang mengikuti pelatihan, merasakan manfaat besar dari kegiatan ini. Ia memiliki anak dengan kondisi Cerebral Palsy dan selama ini menghadapi tantangan dalam melatih kemampuan berdirinya.
Kakek 73 Tahun Tewas Terlindas Truk di Rogojampi Banyuwangi Usai Hindari Pintu Mobil
“Sekarang usianya 11 tahun, tapi jalannya masih ngesot. Belum bisa berdiri tegak. Dengan pelatihan ini saya mendapatkan cara yang pas untuk mengajarkan anak saya untuk bisa berdiri,” ungkapnya.
Sementara itu, Ariensa Gita Pralistyo, guru SLB Negeri Banyuwangi, mengaku pelatihan ini membuka wawasannya mengenai teknik yang aman dan benar dalam menangani siswa dengan hambatan fisik berat.
“Selama ini saya tahunya kalau mengangkat anak ya langsung diangkat saja. Ternyata itu justru bahaya buat tulang punggung mereka. Ada caranya tersendiri yang aman. Saya juga belajar bagaimana kita harus berkomunikasi aktif dengan anak agar mau melakukan gerakan,” ujarnya.