Rembug Santri Banyuwangi Diikuti 50 Peserta, Bahas Sound Horeg hingga Kekerasan di Pesantren
BanyuwangiNet.com – Pemkab Banyuwangi menggelar Rembug Santri sebagai wadah bagi kalangan santri untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Forum yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini diikuti 50 santri dari 15 pondok pesantren di Banyuwangi.
Kegiatan perdana tersebut digelar di aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Selasa (20/10/2026). Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani hadir untuk berdiskusi langsung dengan para peserta.
Diskusi juga menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Endi Fadlullah dari Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Ning Atina Balqis Iskandar dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, serta Ustadz Ghifari Miqdad Al-Ghifari dari Pondok Pesantren Daar Al Ihsan dan Mabadiul Ihsan Karangdoro.
Melalui forum ini, para santri mendapat ruang untuk menyampaikan gagasan, kebutuhan, dan harapan mereka kepada pemerintah daerah. Aspirasi yang terkumpul diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan ke depan.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, Rembug Santri diharapkan dapat menjembatani aspirasi santri dengan para pemangku kepentingan. Forum ini juga diharapkan mendorong langkah konkret untuk memperluas kesempatan lulusan pesantren dalam mengembangkan potensi dan meniti karier di berbagai bidang.
Menurut Ipuk, kesempatan bagi santri untuk mengembangkan diri dan berkarier di sejumlah bidang strategis masih perlu diperluas.
“Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka. Sehingga, pemerintah daerah tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya,” ungkapnya.
Ipuk menegaskan, Pemkab Banyuwangi berupaya melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan agar program pembangunan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan warga.
Selain Rembug Santri, pemkab juga rutin menggelar forum penjaringan aspirasi kelompok masyarakat lainnya, seperti Rembug Lansia, Rembug Anak, Rembug Disabilitas, dan Rembug Perempuan.
“Semua rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut, akan menjadi atensi dan bahan pertimbangan kami dalam pengambilan kebijakan daerah,” katanya.
Dalam Rembug Santri kali ini, peserta membahas sejumlah isu sosial, mulai fenomena sound horeg, bahaya narkoba, perundungan (bullying), hingga kekerasan di lingkungan pondok pesantren. Mereka juga mendiskusikan gambaran sosok santri ideal pada masa depan. Setiap isu dibahas secara mendalam melalui diskusi kelompok.
Salah satu peserta, Elsya Putri Natalia Saputro dari Pondok Pesantren Adz-Dzikra Banyuwangi, mengatakan forum tersebut memberinya kesempatan untuk menyampaikan gagasan yang selama ini hanya tersimpan dalam pikirannya.
Elsya berharap generasi santri ke depan memiliki pedoman yang kuat dalam membentuk karakter. Menurutnya, sebagai umat Islam, santri perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dengan meneladani Nabi Muhammad SAW.
“Santri tidak hanya berhenti pada kompetisi, kita juga bisa menuangkan ilmu yang didapat kepada masyarakat, salah satunya melalui Gerakan Santri Mengajar,” ujarnya.
Bupati Ipuk Bangga Lihat Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi, Kini Lebih Percaya Diri
Peserta lainnya, M. Ibrahim Al Hafidi, berharap santri dapat berperan sebagai subjek dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sekadar menjadi objek. Menurutnya, forum seperti Rembug Santri menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi yang mungkin berbeda dari pandangan masyarakat pada umumnya, kemudian merumuskannya menjadi gagasan bersama.
“Kita perlu bantuan dari pemerintah untuk melaksanakan apa yang diaspirasikan oleh santri, sehingga apa yang dikatakan oleh santri bisa diterima oleh masyarakat dan dikembangkan oleh masyarakat,” katanya.
Ibrahim juga menyoroti fenomena sound horeg yang masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Ia berharap ada aturan yang dapat mengarahkan keberadaan sound horeg agar tidak menimbulkan kerugian, tetapi justru memberikan manfaat dan nilai edukasi bagi masyarakat.
“Meskipun ya mengandung pro kontra ini kita masih berusaha bagaimana cara mengembangkan agar supaya dijadikan hal-hal yang positif atau ada pengembangan yang lainnya,” ujarnya.